Suplemen Swara Rahima Edisi 44; Antara Perempuan, Keledai dan Anjing
Informasi Suplemen:
| Sumber | : | Swara Rahima |
| Tema | : | Antara Perempuan, Keledai dan Anjing |
| Penulis | : | Isti’anah, S.Th.I, M.Ag |
| Editor | : | AD Kusumaningtyas |
| Seri | : | Edisi 44, Maret 2014 |
| Penerbit | : | Rahima |
| Link Download | : | Download |
![]() | |
| Judul | Suplemen Swara Rahima Edisi 44 |
|---|---|
| Seri | Edisi 44, Maret 2014 |
| Penerbit | Rahima |
| Download Suplemen | |
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Alhamdulillahirabbil ‘alamien. Ungkapan rasa syukur yang tak terkira kita haturkan ke hadirat Allah swt. Kasih sayang dan karuniaNya selalu menemani kita dalam menjalankan berbagai amal shaleh dan tugas kemanusiaan.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah pada Baginda Rasulullah saw. Beliaulah suri tauladan kita para umatnya dalam menebar kebaikan di muka bumi. Termasuk di dalamnya menyampaikan dan mengimlementasikan ajarannya tentang kesetaraan dan keadilan di antara sesama umat manusia, laki-laki dan perempuan.
Pembaca setia Swara Rahima yang dirahmati Allah swt.
Suplemen pada edisi ke 44 majalah Swara Rahima kali ini akan membahas kajian mendalam yang dilakukan oleh Istianah, peserta program Pengkaderan Ulama Perempuan (PUP) II dan Penguatan Tokoh Agama wilayah Jawa Barat. Tulisan ini merupakan perenungan panjang yang terinspirasi dari tesis S2-nya di UIN Bandung. Ia mengangkat judul Antara Perempuan, Keledai dan Anjing ( Kritik atas Matan Hadis Nabi) untuk tulisannya ini.
Tulisan ini hadir sebagai refleksi mendalamnya atas banyaknya hadis-hadis yang ditengarai mengandung muatan misoginis (baca : membenci perempuan). Banyaknya argumen-argumen keagamaan yang terkesan mendiskriminasikan perempuan yang seringkali dirujuk oleh para tokoh agama (yang kebanyakan berjenis kelamin laki-laki), membuatnya mempertanyakan hal ini. Oleh karenanya, dengan disiplin ilmu konsentrasi studi hadis-nya, Isti berusaha untuk mengkaji kembali hadis yang bersifat misoginis tersebut. Dan topik di atas diangkatnya untuk bisa menelaah hadis-hadis secara mendalam, dengan mengembangkan kembali pendekatan dalam ilmu musthalah al-hadits. Tidak saja mengungkapkan soal pendekatan kritik sanad atas hadis, Isti juga kembali berupaya untuk mempopularkan pendekatan kritik matan. Sebuah tinjauan sejarah yang pada awalnya dilakukan, namun belakangan hampir dilupakan dalam ilmu hadis yang berkembang akhir-akhir ini.
Para pembaca Swara Rahima yang berbahagia,
Memandang perempuan sebagai salah satu sumber kesialan, atau menganggap dia sebagai pihak yang harus dituding menjadi penyebab membatalkan shalat, tentu merupakan argumen-argumen yang membuatnya geram. Mengapa? Karena terlalu menyudutkan perempuan. Padahal, mustahil Allah dan Rasulnya mengajarkan sikap diskriminatif di antara sesama manusia ciptaan-Nya.
Refleksi atas pengalaman perempuan membuat Isti mempertanyakan kembali informasi-informasi terkait dengan ajaran agama yang didapatkannya selama ini. Dominasi kaum laki-laki yang menjadi tokoh agamawan yang acapkali menjadi sumber rujukan, kadang-kadang memang perlu dipertanyakan. Mungkin, hal tersebut akan menginspirasi para perempuan untuk menjadi mufassirah.
Melalui tulisan ini, diharapkan para pembaca juga akan termotivasi untuk melakukan kajian serupa dengan mengangkat topik-topik lainnya. Dari tulisan ini sendiri, mudah-mudahan ada banyak pelajaran dan inspirasi yang bisa diambil. Semoga sajian suplemen Swara Rahima edisi ke-44 ini bermanfaat. Dan akhirnya kami ucapkan Selamat membaca!
Jakarta, Maret 2014
Redaksi
