Warkah Al-Basyar Volume X Tahun 2020; Edisi 11 Perempuan dan Radikalisme
| Judul | Warkah Al-Basyar Volume X |
|---|---|
| Download Al-Basyar Vol.10 Tahun 2020; Edisi 11 | |
Informasi Buletin:
| Sumber | : | Yayasan Fahmina |
| Nama Buletin | : | Warkah Al-Basyar |
| Seri | : | Volume X Tahun 2020; Edisi 11 |
| Tanggal Terbit | : | 03 Juli 2020 M |
| (11 Dzulqa'idah 1441H) | ||
| Penerbit | : | Fahmina Institute |
| Penulis | : | Roziqoh |
| Link Download | : | Download Warkah Al-Basyar |
Beberapa tahun terakhir ini aksi teror di Indonesia tidak hanya melibatkan laki-laki saja melainkan juga perempuan. Para perempuan ini terlibat dalam penyebaran radikalisme di media sosial dan menjadi pelaku bom bunuh diri. Salah satu contohnya yaitu keterlibatan perempuan dalam rentetan teror bom di 3 gereja di Surabaya, Jawa Timur pada tahun 2018 lalu dan yang terakhir bom teror yang dilakukan oleh solimah isteri teroris Husein alias abu hamzah di kota sibolga Sumut pada tahun 2019.
Hal ini menunjukkan fakta keterlibatan perempuan dalam gerakan terorisme di Indonesia, dan kelihatannya ini menjadi trend baru dalam aksi terorisme menjadikan perempuan sebagai pelaku. Kalau sebelumnya aksi-aksi teror berwajah maskulin dan menggunakan pendekatan patriarkal, belakangan aksi-aksi teror memanfaatkan perempuan sebagai pelaku dan dengan pendekatan feminin. Meskipun faktanya perempuan adalah pelaku, hakikinya mereka adalah korban. Korban dari kondisi ketidaktahuan mereka lalu dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memiliki rencana yang sistematik untuk aksi terorisme.
Selama ini keterlibatan perempuan dalam aksi teror hanya sebagai perantara (tandem) dan sebagai pelindung dari para pelaku teror, sekarang perempuan menduduki posisi strategiss dalam gerakan terorisme di Indonesia maupun di Dunia Internasional, seperti yang disampaikan oleh Direktur Penindakan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Brigjen Petrus Reinhard Golose bahwa teroris mulai merekrut perempuan untuk ikut dalam aksi teror di Indonesia. Para perempuan yang direkrut itu kemudian ditempatkan di posisi strategis dalam perang yang dilakukan oleh organisasi teroris Islamic State in Iraq and Syiria (ISIS). Dan kelompok jihadis perempuan ini bergabung dengan ISIS sebagian besar karena ada hubungan perkawinanan dengan para jihadis laki-laki.
Menurut Lies Marcoes (Direktur Rumah Kita Bersama Foundation), seperti halnya dalam keluarga, para perempuan ekstrimis bertugas mengelola, menggalang dana, hingga melakukan kaderisasi. Ini menunjukkan gerakan teroris-ekstrimis kian berkembang di Indonesia. Pada tahun 2016, keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme mulai terkuak dengan keterlibatan Dian Yulia Novi sebagai pelaku bom panci di Bekasi. Setelah itu muncul nama Ika Puspita Sari yang ikut terlibat dalam aksi bom bunuh diri di luar Jawa dan Umi Delima istri teroris Santoso di Poso. Aksi teror terbaru kembali menjadi sorotan publik setelah terjadi penyerangan dan penyanderaan yang dilakukan oleh narapidana teroris terhadap anggota kepolisian di Markas Komando Brigade Mobil (Mako Brimob) yang menewaskan lima penyidik polisi dan seorang narapidana teroris. Lalu tidak lama setelah penyerangan Mako Brimob, peledakan bom terjadi di Surabaya. Pelaku peledakan bom adalah satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dua anak laki-laki
Sejumlah faktor ditengarai sebagai penyebab mengapa perempuan terlibat terorisme. Di antaranya, faktor pergaulan dan pertemanan, perasaan teralienasi dan terpinggirkan, perasaan frustrasi dan dendam, namun faktor ideologi radikal menjadi kata kunci ketika mereka sudah berada dalam kelompok teroris. Sejumlah penelitian mengungkapkan, para perempuan yang direkrut dalam jaringan tersebut didoktrin setiap saat dengan pandangan keislaman yang radikal. Mereka dijejali dengan narasi-narasi Islam tertindas, tentang romantisme kejayaan Islam masa khilafah. Tentang wajibnya mendirikan negara khilafah yang akan membebaskan mereka dari ketidakadilan dan kemiskinan. Mereka juga didoktrin dengan kisah-kisah figur perempuan pemberani dalam sejarah Islam. Wajibnya menegakkan syariat Islam dan pentingnya menghapus demokrasi dan negara Pancasila yang mereka juluki sebagai thagut (musuh Islam).
Faktor lain yang menyebabkan perempuan rentan menjadi korban radikalisme yaitu kurangnya bargaining position yang dimiliki perempuan. Perempuan tidak bisa melakukan penolakan jika ada pihak yang mengajak menikah khususnya dengan yang memiliki gelar kegamaan seperti ustaz, ataupun syekh. Selain itu perempuan juga tidak memiliki daya tolak karena suami atau saudaranya sudah bergabung menjadi bagian kelompok radikalisme. Sehingga mau tidak mau perempuan akan ikut menjadi bagian dari kelompok tersebut. Hal ini biasanya disertai dengan ketidakberdayaan perempuan dari faktor ekonomi.
Berbagai tantangan radikalisme ini harus direspon dengan penuh strategi oleh perempuan. Salah satu yang bisa dilakukan adalah meneguhkan jati diri perempuan sebagai pemangku kearifan lokal. Karena kearifan lokal sangat melekat kuat dalam diri perempuan. Jejak kearifan lokal bangsa ini banyak sekali yang identik dengan kebesaran dan peran besar perjuangan kaum perempuan.