Lompat ke isi

2025 Construction of Husband and Wife Worker Relationship Patterns Based on the Concept of Gender Equality

Dari Kupipedia
Revisi sejak 22 April 2026 13.46 oleh Agus Munawir (bicara | kontrib) (←Membuat halaman berisi '{{Infobox Jurnal Ilmiah|italic title=Reinterpretation of the Nusyūz Verse in the Al-Taḥrīr wa Tanwīr Exegesis from a Mubadalah Perspective|author=*Mufida Ulfa (UIN KHAS Jember, Indonesia) *Muhammad Masruri (Universiti Tun Hussein Onn Malaysia)|title_orig=Reinterpretation of the Nusyūz Verse in the Al-Taḥrīr wa Tanwīr Exegesis from a Mubadalah Perspective|name=|issn=2527-8711|note=[https://ejournal.uas.ac.id/index.php/falasifa/article/view/2558/1243 (Dow...')
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
JudulReinterpretation of the Nusyūz Verse in the Al-Taḥrīr wa Tanwīr Exegesis from a Mubadalah Perspective
Penulis
  • Mufida Ulfa (UIN KHAS Jember, Indonesia)
  • Muhammad Masruri (Universiti Tun Hussein Onn Malaysia)
SeriVol 16 No 02 (2025): September
Tahun terbit
2025-09-30
ISSN2527-8711
DOIhttps://doi.org/10.62097/falasifa.v16i02.2558
Sumber OriginalFalasifa: Jurnal Studi Keislaman
(Download Original)

Abstrak: Fenomena pemaknaan ayat nusyūz dalam masyarakat selama ini masih bias gender, karena label nusyūz lebih sering dilekatkan pada istri dibanding suami, padahal al-Qur'an menegaskan bahwa potensi nusyūz dapat terjadi pada keduanya. Bias tafsir ini dipengaruhi oleh dominasi pemikiran klasik yang kurang memberikan keseimbangan dalam membahas relasi suami-istri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ulang penafsiran Ibn 'Āsyūr terhadap ayat-ayat nusyūz dalam Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr dengan menggunakan perspektif mubādalah yang menekankan prinsip kesetaraan dan resiprositas gender. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan pendekatan analisis kualitatif dan teknik analisis isi terhadap teks tafsir primer serta sumber-sumber sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Ibn 'Āsyūr terhadap ayat nusyūz masih sejalan dengan mufassir klasik, meskipun ia menawarkan perbedaan penting dalam memahami tiga tahapan penyelesaian nusyūz. Menurut Ibn 'Āsyūr, tiga langkah penyelesaian—nasihat, pisah ranjang, dan pemukulan—tidak harus dilakukan secara berurutan, melainkan dipilih sesuai tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh nusyūz. Ia juga menegaskan perlunya intervensi pemerintah bila suami melampaui batas dalam tindakan fisik terhadap istri. Namun, perspektif mubādalah mengungkap bahwa tafsir Ibn 'Āsyūr belum sepenuhnya menghadirkan relasi timbal balik yang adil antara suami dan istri, baik dalam definisi maupun solusi terhadap nusyūz. Tafsir ini perlu dikontekstualisasikan ulang agar selaras dengan prinsip kesalingan dan keadilan gender yang ditawarkan oleh pendekatan mubādalah.

Kata Kunci: Ibn 'Āsyūr, Mubādalah, Nusyūz

Abstract: The interpretation of nusyūz verses in Muslim societies remains gender-biased. The term nusyūz gets attributed predominantly to wives rather than husbands, even though the Qur'an addresses both. This interpretive asymmetry stems from classical exegetical traditions that inadequately discuss marital relations in a balanced manner. This study re-examines Ibn 'Āsyūr's interpretation of the nusyūz verses in Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr through the lens of mubādalah, a hermeneutical framework emphasizing reciprocity and gender equality. Using a library research design and qualitative content analysis, this study analyzes Ibn 'Āsyūr's tafsir alongside relevant exegetical and fiqh sources. The findings reveal that Ibn 'Āsyūr's interpretation largely aligns with classical exegetes, yet introduces a significant reinterpretation of the three remedial steps for nusyūz: admonition, separation of beds, and physical discipline. Unlike most commentators who view these steps as sequential, Ibn 'Āsyūr argues that each should be applied according to the degree of marital disruption. He also emphasizes governmental intervention if a husband exceeds permissible limits. The mubādalah perspective reveals that Ibn 'Āsyūr's tafsir still lacks reciprocal and egalitarian treatment of both spouses in defining and resolving nusyūz. His interpretation requires further contextualization to align with the ethical principles of mutuality and gender justice inherent in mubādalah.

Keywords: Ibn ‘Āsyūr, Mubādalah, Nusyūz