Lompat ke isi

Tanasul Edisi 01; Jangan Salah Informasi, Saatnya Kenali Masalah Kespro Kita

Dari Kupipedia
Revisi sejak 25 April 2026 18.08 oleh Agus Munawir (bicara | kontrib) (←Membuat halaman berisi '{{Infobox book|publisher=Fahmina Institute|image=Berkas:Blakasuta Vol05.jpg|italic title=Menakar Kepedulian APBD Kota Cirebon terhadap Kesehatan Perempuan|pub_date=2024|series=Volume 05 Tahun 2004|title_orig=Menakar Kepedulian APBD Kota Cirebon terhadap Kesehatan Perempuan|name=|notes=[https://drive.google.com/file/d/1n2ADbxx43sa1h-gmV4HZKwZpG5Nwvfry/view?usp=drive_link Download PDF]|image_caption=[https://kupipedia.id/index.php/Buletin_Blakasuta Buletin Blakasut...')
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Informasi Buletin:

JudulMenakar Kepedulian APBD Kota Cirebon terhadap Kesehatan Perempuan
SeriVolume 05 Tahun 2004
PenerbitFahmina Institute
Tahun terbit
2024
Download PDF
Sumber : Yayasan Fahmina
Nama Buletin : Buletin Blakasuta
Seri : Volume 05 Tahun 2004

Assalamu'alaikum, Wr. Wb.

Dalam setiap dialog mengenai agama dan perempuan, selalu muncul ungkapan bahwa kebanyakan perempuan bersahabat dengan agama tetapi kebanyakan agama tidak bersahabat dengan perempuan. Mungkin kebanyakan tokoh agama akan menyanggah pernyataan ini. Tetapi pengalaman perempuan menyiratkan betapa banyak orang, dengan mengatasnamakan agama, seringkali tidak menutup akses yang seharusnya dinikmati perempuan. Merekapun kemudian sering menjadi obyek pembicaraan, daripada menjadi subyek yang membicarakan, apalagi menentukan.

Pada masa kecil dahulu, kita sering mendengar nyanyian yang sangat menyentuh mengenai kasih ibu.

Kasih ibu kepada beta

Tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia

Nyanyian ini indah dan menyentuh perasaan semua orang. Betapa ibu seringkali harus berkorban tanpa mengharap imbalan sama sekali. Nyanyian ini sebenarnya untuk mengingatkan kita; betapa jasa ibu sangat besar, agung dan mulia. Setiap orang pasti akan mengingat betapa besar pengorbanan ibu terhadap anak-anaknya.

Tetapi bait ketiga dan keempat dari nyanyian itu: Hanya memberi tak harap kembali- Bagai sang surya menyinari dunia- mengendap dalam kesadaran setiap kita, bahwa mereka para ibu memang benar-benar laksana sang surya yang terus diminta berkorban, memberi, melayani dan mengasihi untuk orang lain. Sementara diri mereka terlupakan, atau secara sengaja dilupakan.

Para perempuan benar-benar harus laksana surya yang membakar diri mereka untuk kepentingan orang lain, sementara orang lain itu tidak perlu harus berbuat sesuatu yang sama. Mereka tidak perlu diperhatikan, karena kitalah yang seharusnya diperhatikan mereka. Mereka tidak perlu dipikirkan, karena kitalah yang harus dipikirkan mereka. Bahkan, kesehatan mereka tidak perlu dianggarkan, karena kitalah yang sebenarnya memerlukan anggaran kesehatan.

Sekalipun semua orang sepakat bahwa reproduksi merupakan amanah kemanusiaan yang harus diemban perempuan, tetapi tidak banyak yang memikirkan bahwa seorang perempuan untuk mengemban amanah reproduksi itu memerlukan kesehatan yang prima. Karena itu, memerlukan akses pendidikan dan ekonomi yang juga prima. Sangat sedikit sekali, diantara kita yang benar- benar memikirkan akses sosial ekonomi yang menjadi hak dasar perempuan.

Tidak semestinya kita mengagungkan para ibu, hanya dengan pujian dan kata-kata manis semata. Kita harus benar-benar memastikan kesehatan mereka, baik secara fisik, mental maupun sosial. Mereka bukanlah dewa atau malaikat yang hanya diciptakan untuk dipuja dan diagungkan. Mereka adalah manusia, yang perlu hidup dengan layak, perlu pendidikan dan kesehatan.

Blakasuta pada nomor ini memebicarakan sejauhmana institusi-institusi sosial kita sudah memanusiakan perempuan, terutama dari APBD dan kebijakan-kebijakan publik lain.

Selamat membaca!

Wallahu al-Musta'an, Wassalam