Blakasuta Edisi 51 Merawat Lingkungan dengan Mengelola Sampah

Informasi Buletin:
| Sumber | : | Yayasan Fahmina |
| Nama Buletin | : | Buletin Blakasuta |
| Seri | : | Volume 50 Juli - Desember 2023 |
| Tanggal Terbit | : | Tahun 2023 |
| Penerbit | : | Fahmina Institute |
| Link Download | : | Download Blakasuta Vol.51 |
Beberapa bulan belakangan, kita disuguhi pemberitaan mengenai terbakarnya tempat pembuangan akhir sampah (TPAS) yang terjadi diberbagai daerah di Indonesia, seperti Bandung, Cirebon, Bekasi, Semarang, Bali dan beberapa tempat lainnya. Dalam beberapa hari petugas sibuk memadamkan api yang terus berkobar dan menimbulkan asap tebal. Tumpukan sampah yang mengering, akibat kemarau panjang, menjadi penyebab lamanya petugas memadamkan api. Ditambah lagi, angin yang terus bertiup, menyebabkan api terus merambah tumpukan sampah sebelahnya.
Disaat bersamaan, masyarakat sekitar mulai merasakan sesak nafas akibat menghirup udara yang bercampur asap kebakaran sampah. Satu persatu masyarakat mulai melakukan pengecekan kesehatan di puskesmas terdekat. Kebanyakan mereka yang datang ke puskesmas, merasakan batuk dan sesak nafas akibat infeksi saluran pernafasan atas (ISPA). Bagi masyarakat sekitar TPAS, gangguan pernafasan sudah lama dirasakan. Karena hampir setiap hari mereka menghirup bau tidak sedap yang ditimbulkan dari tumpukan sampah. Hal ini seolah menjadi takdir yang harus mereka terima apa adanya. Tidak bisa berbuat banyak kecuali hanya menerima kebijakan pemerintah yang menempatkan TPAS berada di lingkungan mereka.
Di tempat lain ada juga masyarakat yang menolak jika lingkungannya dijadikan TPAS. Seperti kasus TPAS Bantar Gebang di Bekasi yang menjadi TIPAS Jakarta. Mereka berdemo, menutup jalan menuju TPAS dan lain sebagainya. Semua dilakukan karena mereka merasakan dampak buruk dari keberadaan sampah yang ada di lingkungan mereka. AKhirnya sampah menjadi masalah sosial. Bahkan bisa jadi menjadi masalah politik, sosial, budaya, lingkungan dan ekonomi.
Tentu kita masih ingat bagaimana peristiwa Februari 2005 dimana TPAS Leuwigajah Cimahi longsor dan menelan 157 korban jiwa. Longsoran ini terjadi akibat ledakan gas metana (CH4) yang terperangkapnya di timbunan sampah yang menggunung. Selain menelan korban jiwa, bencana TPAS Leuwigajah juga melenyapkan 86 rumah dan menimbun 8,5 hektar lahan pertanian dengan ribuan ton kubik sampah.
Bagitu banyak kasus terkait sampah, namun seolah menanti jalan buntu. Belum ketemu cara penyelesainnya yang efektif. Berbagai cara coba dilakukan pemerintah, agar sampah tidak jadi masalah. Dan mulai menyiapkan lahan dan alat pemusnah sampah di tiap desa untuk pengelolaan sampah. Sampai pada menyediakan TPAS yang jauh dari pemukiman penduduk, agar tidak mengganggu kesehatan masyarakat. Berbagai upaya tersebut, pada akhirnya tetap saja memunculkan masalah di masyarakat. Belum lagi masalah lingkungan yang tercemar akibat pembakaran maupun tumpukan sampah yang menggunung.