2023 Kumpulan Ceramah Ramadan Ulama Perempuan
Alhamdulillah, rasa syukur yang sangat dalam atas terbitnya buku kumpulan ceramah ramadhan ulama perempuan yang tayang selama tiga tahun di kanal youtube swa– rarahima dotcom dengan nama “Ngabuburit.” Buku ini hadir salah satunya untuk menjawab kebutuhan para penceramah yang sering kebanjiran job selama ramadhan. Saya beberapa kali diminta oleh sebagian kolega untuk memberikan masukan terkait tema maupun dalil yang relevan untuk materi ceramah ramadhan baik di radio, youtube, podcast, dan lainnya selama ramadhan. Saya sangat senang, karena pesan kebaikan bagi perempuan dalam tema-tema ramadan mulai disuarakan oleh berbagai pihak.
| Judul | Kumpulan Ceramah Ramadan Ulama Perempuan |
|---|---|
| Editor |
|
| Penerbit | Rahima |
Tahun terbit | Cetakan Pertama, 2024 |
| Halaman | xii + 273 halaman |
| ISBN | - |
| (Download PDF) | |
Pada awalnya kami di Rahima sempat ragu, apakah para Bu Nyai berani mengisi cermah ramadhan di Youtube (awal pandemi 2020)? Mengingat selama ini belum banyak yang berani tampil, karena takut di-bully netizen, takut keliru, dan lain sebagainya. Ketakutan memang lazim terjadi mengingat para pengguna media sosial merasa luwes mem-bully terutama kepada perempuan. Pem-bullyan banyak terjadi ketika nitizen menemukan ketidaksesuaian antara apa yang disampaikan dengan pemahaman yang ia miliki sebelumnya.
Pem-bully-an yang terjadi kepada perempuan justru jarang dialami oleh dailaki-laki ketika melakukan kesalahan, mereka lebih mudah dimaklumi dan dilupakan. Salah satu contohnya seperti kejadian di tahun 2017, di mana salah satu ustazah penceramah di salah satu TV swasta nasional keliru menulis ayat al-Qur’an saat menjelaskan. Karena kesalahan yang dilakukan, netizen membully-nya dengan beragam komentar yang menyudutkan, hingga akhirnya Ustazah tersebut tidak berani tayang lagi di televisi. Peristiwa di atas, menjadi sebuah bayang-bayang bagi ulama perempuan lain, yang sebetulnya mempunyai kemampuan berdakwah di ruang-ruang publik.
Begitupun para ulama perempuan mengungkapkan ketakutan dibully netizen. Melihat hal itu, kami melakukan upaya afirmasi dengan meyakinkannya bahwa kita bukan penceramah tunggal, melainkan kolektif. Sehingga para ulama perempuan bisa saling mendukung dan menguatkan. Sebagaimana juga Rahima sigap mendorong, menopang, dan memberikan penguatan jika terjadi kekeliruan yang dilakukan Ulama Perempuan saat menyampaikan dakwahnya. Kami melakukan proses pengecekan atau kurasi, baik secara substansi maupun secara teknis sebelum video tersebut tayang.
Para ulama perempuan memberikan sentuhan yang berbeda pada ceramah-ceramah ramadhannya lainnya yakni dengan menggunakan pendekatan mubadalah dan keadilan hakiki. Meski tema-tema yang diangkat tematema adalah tema-tema yang umum dibahas, namun di dalamnya terdapat pesan-pesan keadilan dan kesalingan bagi laki-laki dan perempuan atau suami-istri dalam relasi keluarga.
Misalnya tema terkait dengan syarat sah puasa salah satunya harus bersih dari haid dan nifas. Salah satu ulama perempuan membahas hikmah bagi perempuan yang tidak puasa dan stigma yang melekat kepadanya. Tak hanya itu ia juga memberikan panduan bagaimana seseorang berempati terhadap perempuan yang sedang haid dan menjalankan proses reproduksinya. Begitu pun pada tema I’tikaf sebagai salah satu kegiatan yang disunahkan selama ramadhan terutama dilakukan pada malam 10 hari sebelum lebaran untuk menjemput lailatulkadar. Pada tema ini, Ulama Perempuan menjelaskan pemaknaan dengan cara luas, sehingga bagi perempuan yang tidak bisa ber’itikaf karena kesibukan menyiapkan kebutuhan keluarga terutama menjelang hari raya mereka bisa mendapatkan pahala yang sama dengan aktivitas berbeda karena pengorbanannya menyiapkan kebutuhan personal lain dan mendukungnya melakukan aktivitas ibadah.
Buku ini hadir sebagai bentuk apresiasi kami kepada 56 orang ulama perempuan yang sudah berani keluar dari zona nyaman sebagai penceramah di ruang offline memasuki ruang online. Saya menjadi saksi bagaimana perjuangan para Ibu Nyai dalam menghadapi berbagai tantangan mulai dari pembuatan naskah hingga proses pengambilan video, terutama saat pertama kali ceramah yang bertepatan dengan awal pandemi 2020. Para ulama perempuan mendapatkan tantangan yang berat, karena mereka selain menyiapkan bahan materi yang singkat padat dan jelas dalam waktu tujuh menit, mereka juga menyiapkan alat-alat sendiri. Meski Rahima menyediakan clip on, namun tidak semua mampu mengoprasionalkan dengan baik. Bu Nyai berupaya mengambil gambar dan teknik pengambilan video dengan caranya masing-masing. Sehingga dengan proses kurasi, Bu Nyai jadi mengulang dan memperbaiki video ceramahnya berkali-kali, di hari-hari berikutnya. Gangguan suara yang masuk dari aktivitas siang hari mengharuskan para ibu nyai melakukan typing di waktu yang sunyi, di tengah malam ketika semua orang terlelap tidur.
Pengalaman para Ibu Nyai ini tak jarang membuat kami (dalam group khusus) tertawa haru, sambil membayangkan perjuangannya. Beberapa masih merasa minder, kami mengingatkan bahwa support kami akan selalu ada begitu juga support dari ulama perempuan lainnya sehingga dia tidak perlu merasa sendiri. Sharing yang dilakukan satu sama lain juga menjadi pembelajaran bersama.
Program Kultum Ramadhan yang diadakan Rahima, bagi beberapa orang, menjadi titik berangkat di mana selanjutnya mereka melakukan ceramah-ceramah lainnya di media sosial masing-masing. Beberapa Ibu Nyai mengungkapkan, tanggapan positif yang ia dapat pada video ceramnya yang dimuat di youtube swararahima membuat mereka lebih percaya diri. Mereka juga mendapatkan undangan dari berbagai lembaga termasuk dari ormas Islam, radio swasta maupun milik pemerintah, dan TV lokal untuk mengisi ceramah singkat selama ramadhan juga dengan membuka pengajian online yang diselenggarakan oleh pesantren, maupun oleh ormas islam seperti Fatayat NU di masing-masing daerah, dan disiarkan melalui media sosial mereka.
Pengalaman di atas menjadi pembelajaran berharga Rahima. Kami yakin bahwa ulama perempuan sebagai gerakan kolektif, mampu melakukan perubahan yang besar. Mendampingi, menguatkan, dan mendukung mereka adalah hal yang sangat penting untuk memperkuat otoritas para ulama perempuan. Karena itu, kami berharap para pembaca juga mendapatkan spririt yang kuat dari teks ceramah yang ada dalam buku ini. Baik terhadap substansi yang terdapat dalam konten, maupun motivasi untuk melakukan hal serupa berdakwah dalam dunia online.
Kami memilih delapan puluh teks ceramah untuk dimuat dalam buku ini. Meski ada beberapa tema yang hampir sama, namun selalu terdapat sudut pandang yang berbeda. Delapan puluh lebih tema kami klasifikasi ke dalam sembilan kategori yaitu: Islam Agama Ramah Perempuan, Perempuan dalam Sejarah Islam, Relasi Suami Istri dalam Keluarga, Peran Orang Tua dalam Pengasuhan, Makna Puasa, Hal-hal yang Membatalkan Puasa, Pengalaman Perempuan di Bulan Ramadhan, Memaknai Keutamaan Ramadhan, Relasi Perempuan dan Alam.
Kami menyadari buku ini masih banyak kekurangan. Karena itu, masukan dan kritikan dari para pembaca sangat kami harapkan. Buku ini tidak akan hadir tanpa dukungan banyak pihak. Kami megucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak khususnya kepada We Lead dan Pemerintah Kanada yang telah mendukung lahirnya buku ini. Kepada para Ibu Nyai dan Pak Kyai yang ceramahnya kami tuliskan dalam buku ini, kepada Ustaz Wandi sebagai editor, Isthi, Andi, Binta, Gina, Nunu yang sudah mentranskrip ceramah dan membantu mengumpulkan data. Kepada semua tim Rahima lainnya Frans, Ricky dan Kahfi. Semoga buku ini bermanfaat.
Jakarta, Mei 2023
Pera Sopariyanti (Direktur Rahima)