Majalah Swara Rahima Edisi 10; Tafsir Ulang Politik Perempuan
Informasi Majalah:
| Sumber | : | Swara Rahima |
| Nama Majalah | : | Majalah Swara Rahima |
| Tema | : | Tafsir Ulang Politik Perempuan |
| Seri | : | Nomor 10 Tahun III, April 2004 |
| Penerbit | : | Rahima |
| Link Download | : | Download |
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
| Judul | Majalah Swara Rahima Edisi 10 |
|---|---|
| Seri | Nomor 10 Tahun III, April 2004 |
| Penerbit | Rahima |
| Download Majalah | |
Swara Rahima edisi ke-10 ini hadir kembali di saat Indonesia sedang menjalani pesta demokrasi. Dalam edisi kali ini kami mengajak pembaca untuk mendiskusikan masalah politik perempuan. Termasuk di dalamnya menyinggung tentang partisipasi politik perempuan, maknanya dalam sejarah Islam dan juga perempuan dalam pemilu.
Pembaca yang berbahagia…
Politik sesungguhnya telah lama mengalami penyempitan arti. Sejak dulu politik hanya dikaitkan dengan kekuasaan dan urusan negara padahal makna politik sesungguhnya adalah apapun yang berkaitan dengan hidup kita. Bagi perempuan, desakan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik adalah politik. Begitu juga cara mempengaruhi suami untuk mendapatkan hak nafkah adalah politik. Dan Swara Rahima kali ini akan mengajak pembaca lebih intens lagi membicarakan dan belantara politik.
Pembaca yang budiman,
Bicara politik sesungguhnya bicara siapa mendapatkan apa, kapan dan bagaimana. Di dalamnya juga mengandung pemahaman tentang relasi kuasa antar individu, perempuan dan laki-laki, kelompok masyarakat dan organisasi beserta segala persoalannya. Sedangkan jika merujuk kepada pemahaman konvensional maka politik diartikan semata-mata persoalan kekuasaan, negara dan jabatan tertentu. Ada pemisahan mengenai publik dan privat di dalamnya, padahal dalam kenyataannya, batas antara persoalan publik dan privat sangatlah abstrak, karena segala persoalan di wilayah publik akan berdampak pula di wilayah privat.
Jika dikatakan bahwa tidak ada batas yang tegas antara publik dan privat maka tentunya kiprah politik perempuan tentunya menjadi tidak sekedar keterwakilan mereka di lembaga legislatif, ataupun hanya muncul sebagai trend menjelang moment politik tertentu. Karena pada hakikatnya perempuan adalah politisi untuk dirinya sendiri. Dalam hal ini jika perempuan adalah politisi bagi dirinya sendiri maka sesungguhnya 51% perempuan Indonesia adalah juga politisi, bukan hanya mereka yang duduk di legislatif.
Akhirnya, semoga Swara Rahima dapat terus menjadi majalah pilihan pembaca terutama berkaitan dengan informasi Islam dan Hak Perempuan.
Redaksi