Lompat ke isi

Suplemen Swara Rahima Edisi 56; Memaknai Hijrah untuk Kemanusiaan Perempuan

Dari Kupipedia
Revisi sejak 23 Februari 2026 15.18 oleh Agus Munawir (bicara | kontrib) (←Membuat halaman berisi ''''Informasi Majalah:''' {| |Sumber |: |[https://swararahima.com/2001/05/05/edisi-1/ Swara Rahima] |- |Nama Majalah | : |Majalah Swara Rahima |- |Tema |: |Mengukir Sej...')
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Informasi Majalah:

Sumber : Swara Rahima
Nama Majalah : Majalah Swara Rahima
Tema : Mengukir Sejarah Baru
Seri : Nomor 1 Tahun I, Mei 2001
Penerbit : Rahima
Link Download : Download
Suplemen Swara Rahima Edisi 56; Memaknai Hijrah untuk Kemanusiaan Perempuan
JudulMajalah Swara Rahima Edisi 01
SeriNomor 1 Tahun I, Mei 2001
PenerbitRahima
Download Majalah

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Pembaca yang kami hormati,

Sebuah kelahiran senantiasa selalu diiringi harapan. Sebuah kelahiran adalah anugerah yang harus disyukuri. Kini, alhamdulilah, Swara RAHIMA edisi perdana telah hadir di tangan anda. Sesuai dengan namanya kami ingin mengikhtiarkan media ini sebagai media ‘kasih sayang’. Media silaturrahmi antar kita semua untuk berbagi kebaikan dalam rangka menegakkan hak-hak perempuan. Dengan demikian, insya Allah, media ini akan menjadi titian untuk merealisasikan cita kemanusiaan yang hakiki. Kami sadar, semua itu tidak semudah membalik telapak tangan. Akan tetapi kelahiran Rahima di tengah gempuran situasi ‘konflik’ yang lagi marak di negeri ini justru menjadi dorongan bagi kami untuk bekerja dalam semangat kasih sayang. Dan sudah tentu ‘concern’ para pembaca merupakan ‘rabuk’ yang dapat menyemainya.

Pembaca yang budiman,

Indonesia kini tengah bergolak. Ada krisis politik, ekonomi dan sosial budaya yang berkepanjangan. Peristiwa demi peristiwa yang mengerikan dan tak pernah di sangka-sangka muncul satu demi satu. Ironisnya semua itu menjamur ketika kran kebebasan mulai terbuka. Ketika masyarakat tengah berupaya mengungkapkan diri untuk merealisasikan segenap harapan mereka akan sebuah dunia yang lebih baik, setelah lebih dari tiga dasawarsa hidup dalam situasi tertekan.

Saat ini, di tengah gelombang harapan itu, teror, pembunuhan dan penyiksaan justru merebak dimana-mana. Kekerasan semakin tampak nyata dan intensif. Terbuka bahkan sangat vulgar. Dan sayangnya, berbagai ekspressi kekerasan itu seringkali dikaitkan dengan agama. Politisasi agama dengan sangat terampil mengemas dua isu sensitif, perempuan dan agama. Ambil contoh ekspose media masa. Begitu penuh emosi. Ada ‘sweeping’ terhadap para pekerja seks, perkosaan dan rajam, aborsi, cadar, jilbab, penggundulan rambut, sampai pro kontra presiden perempuan atau perkawinan (lintas agama). Seringkali tema tema itu dikemas dengan sentimen agama yang tinggi. Hal ini pada gilirannya bisa dipakai oleh pihak- pihak yang tidak bertanggung jawab sebagai ‘bahan bakar’ untuk memperkeruh situasi.

Di saat-saat seperti inilah, siapapun kita, termasuk kaum perempuan sudah selayaknya ‘bertafakkur’ sejenak. Mengkaji ulang apa yang tejadi, sebagai bekal untuk melakukan sebuah tindakan yang bertanggung jawab lagi arif di masa datang. Karena sebagai bagian dari bangsa ini kita tidak boleh bersikap reaktif terus menerus, kebingungan atau malahan tinggal diam.

Dalam semangat itulah, di edisi perdana ini Swara RAHIMA mengajak para pembaca untuk berefleksi di seputar sebuah tema besar yakni gerakan perempuan Islam. Sebagai sebuah langkah awal, kami sama sekali tidak berpretensi mengungkap seluruh kisi gerakan ini. Namun kami berupaya sedapat mungkin untuk dapat menghadirkan sebuah sajian yang memberi gambaran akan sosok dan dinamika gerakan yang tengah terjadi. Semoga kita semua dapat membacanya secara jujur dan kritis. Karena hanya dengan kejernihan dan kejujuran, hikmah dapat kita petik dari setiap kejadian.

Pembaca yang berbahagia,

Akhirnya, kami selalu mengharapkan saran dan kritik para pembaca guna perbaikan Swara RAHIMA di hari-hari mendatang. Untuk itu, keluarga besar Rahima mengharap restu para pembaca, agar kerja yang kami lakukan akan lancar dan penuh rahmat bagi kita semua. Khususnya bagi kaum perempuan yang sampai saat ini banyak dari hak-hak dasar mereka masih belum diakui. Semoga Allah, Tuhan yang Maha Rahman dan Rahim, selalu memberkati upaya kita semua. Amin.

Wassalam,

Redaksi