Suplemen Swara Rahima Edisi 47; Meretas Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan Melalui Bahasa
Informasi Suplemen:
| Sumber | : | Swara Rahima |
| Tema | : | Meretas Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan Melalui Bahasa |
| Penulis | : | Nia Ramdaniati |
| Editor | : | AD. Kusumaningtyas |
| Seri | : | Edisi 47, Desember 2014 |
| Penerbit | : | Rahima |
| Link Download | : | Download |
![]() | |
| Judul | Suplemen Swara Rahima Edisi 47 |
|---|---|
| Seri | Edisi 47, Desember 2014 |
| Penerbit | Rahima |
| Download Suplemen | |
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Alhamdulillah, segala puji syukur kita haturkan ke hadirat Allah swt. Berkat rahmat dan karunia-Nya, kita masih mendapatkan kesempatan untuk melalui hari-hari dan mengisinya dengan kerja-kerja kemanusiaan dalam rangka pengabdian kita pada-Nya. Keberadaan kita sebagai manusia, lelaki dan perempuan di mata-Nya adalah sama. Oleh karena itu, tak mungkin Allah menyia-nyiakan setiap amal saleh dan amal kebajikan yang kita lakukan.
Shalawat dan salam, semoga terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. sang pembaharu dan pembawa gagasan revolusioner yang mengubah tradisi masyarakat Arab pra Islam yang patriarkis sehingga lebih menghormati dan menghargai perempuan. Konteks zaman dimana beliau lahir dan dibesarkan memang dipengaruhi kultur sosial yang masih mendiskriminasikan laki-laki dan perempuan. Termasuk di dalamnya, penggunaan bahasa yang mengandung nilai-nilai misoginis dan merendahkan perempuan.
Pembaca yang mulia,
Sebuah pepatah mengatakan “bahasa menunjukkan bangsa”. Penggunaan bahasa juga mencerminkan kultur dan struktur masyarakat penggunanya. Bila bahasa Indonesia yang sehari-hari kita gunakan tidak mengenal perbedaan gender, penggunaan kata ganti berdasarkan jumlah orang, ruang, dan waktu, tidak demikian halnya bahasa-bahasa lainnya. Bahasa Jawa dan bahasa Sunda, misalnya dipengaruhi oleh stratifikasi sosial berdasarkan usia untuk menunjukkan ‘kadar keakraban’ dan ‘kadar kesopanan’ pada sesama, orang tua, maupun kelompok yang dipandang terhormat lainnya. Sementara, Bahasa Arab dan Inggris mengenal perbedaan kata ganti orang, waktu, dan jenis kelamin. Khusus Bahasa Arab, pengaruh gender sedemikian kuatnya. Oleh karenanya, hal ini menarik perhatian seorang Nia Ramdhaniati, peserta program Pengkaderan Ulama Perempuan (PUP) Angkatan II wilayah Jawa Barat untuk mengupas dan mengkajinya. Hasil kajiannya kami sajikan dalam tulisan pada Suplemen berjudul “Meretas Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan Melalui Bahasa” pada Swara Rahima edisi ke-47 kali ini.
Menurutnya, ini penting karena Bahasa Arab dipandang sebagai Lughah al-Quran (Bahasa Alquran), sementara Alquran diturunkan dalam konteks masa lalu bangsa Arab yang dikenal patriarkis itu. Ada apa gerangan dengan rahasia Tuhan menurunkan Alquran melalui bahasa Arab ini. Tentu ada banyak pelajaran berharga, disamping bahasa Arab adalah yang bahasa yang digunakan oleh Rasulullah saw. sehari-hari.
Pembaca yang budiman,
Salah satu kaidah dalam Bahasa Arab menyebutkan “kullu jam’in muannats” (setiap yang jamak adalah muannats/berjenis kelamin perempuan). Mengapa setiap kata yang berkonotasi perempuan digunakan sebagai alat untuk merendahkan? Mengapa pula dalam Alquran, banyak seruan kepada orang-orang yang beriman dibahasakan dengan bentuk jamak mudzakkar salim (plural masculine) dengan frasa “ya ayyuhalladziina aamanuu” (“wahai orang-orang yang beriman” –yang bisa diartikan secara letterlijk “wahai kamu sekalian kaum laki-laki yang beriman”). Kenapa eksitensi perempuan menjadi hilang? Haruskah keberadaannya direduksi sedemikian rupa sehingga ia tidak akan pernah tampak dalam sekumpulan laki-laki, atau jumlahnya yang banyak akan hilang hanya karena ada seorang laki-laki turut di dalam anggota kelompok itu?
Contoh yang lainnya, adalah kenapa isu “kepemimpinan” seringkali diidentikkan dengan laki-laki? Apa yang sebenarnya sedang ingin disampaikan dengan penggunaan kata rijaal dan qawwaam di sini? Apakah hal ini mengacu kepada keberadaan laki-laki secara biologis lebih superior terhadap mereka yang berjenis kelamin perempuan. Ataukah sebenarnya merujuk pada kualitas maskulinitas positif (positive masculinity) dalam kepemimpinan (leadership) yang memungkinkannya mengemban amanah sebagai pemimpin? Pembaca Swara Rahima yang senantiasa dirahmati Allah swt.
Wajar bila penggunaan bahasa yang memihak pada satu jenis kelamin ini pernah mendapat protes pada kaum perempuan yang hidup di masa Nabi. Dan mustahil Allah swt. mengabaikan keberadaan mereka. Beberapa surat dalam Alquran bertutur tentang kisah dan perjuangan perempuan dalam menuntut hak-haknya. Dan ayatayat dalam beberapa surat dalam Alquran semisal QS. Al Hujurat: 13, QS. At Taubah: 71, QS. Ali Imran: 195, dan QS. Al Ahzab: 35 mengafirmasi kesetaraan laki-laki dan perempuan dengan menyebut kedua jenis kelamin sekaligus. Jelas, di hadapan Allah mereka setara.
Demikianlah sedikit pengantar dari Redaksi, akhirnya kami ucapkan “Selamat membaca”.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Redaksi
