Lompat ke isi

Majalah Swara Rahima Edisi 06: Islam, Perempuan dan HIV/AIDS; Ada Apa?

Dari Kupipedia
Revisi sejak 20 Maret 2026 00.17 oleh Agus Munawir (bicara | kontrib)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Informasi Majalah:

Sumber : Swara Rahima
Nama Majalah : Majalah Swara Rahima
Seri : Nomor 06 Tahun II, Desember 2002
Penerbit : Rahima
Link Download : Download

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Pembaca yang budiman,

Meski terlambat, Swara Rahima kembali hadir di pangkuan Anda. Keterlambatan ini salah satunya disebabkan oleh ‘reboisasi’ dalam redaksi. Selain itu, ada kendala tekhnis yang justeru nyaris menghabiskan energi. Namun tidak ada yang sia-sia. Beberapa hal baru akan pembaca jumpai mulai edisi ini. Meskipun tidak signifikan, wajah baru ini misalnya muncul dalam rubrikasi kami. Rubrik-rubrik yang rada ‘serius’ kami kelompokkan pada bagian-bagian pertama. Pada edisi 6 ini, rubrik “fikrah” dirancang sebagai rubrik yang akan mengomentari dan memberi catatan serta review terhadap wacana pemikiran. Swara Rahima kali ini juga menghadirkan rubrik “cerpen” dan “puisi” untuk mengakomodir beberapa permintaan pembaca, sekaligus memberi ruang bagi bakat yang selama ini terpendam. Semoga, ‘wajah baru’ ini mendapat tempat di hati pembaca.

Pembaca yang berbahagia,

Headline yang kami usung kali ini, tidak jauh-jauh dari isu yang selalu memojokkan perempuan. Meskipun isu HIV/AIDS ini sudah sering dikaji dan dipublikasikan dalam berbagai kesempatan, namun ia tidak menjadi basi ketika direkonstruksi melalui perspektif lain, pun dengan metodologi lain. Banyak pihak yang kecewa ketika isu ini didekatkan dengan isu agama dan moral, karena efeknya luar biasa. Apalagi selama ini, pihak yang menyandingkan isu HIV/AIDS dengan agama adalah pihak yang selama ini rada atau memang ‘konservatif’, terlalu dikotomis, dan memandang hitam putih dalam menjalankan agama. Dalam edisi kali ini, kami ingin menyeret dan menempatkan moral dan agama bergandengan dengan aspek-aspek lainnya.

Dalam konteks ini, moral dan agama berada di lapisan terluar dari semua unsur-unsur HIV/AIDS. Ketika HIV/AIDS muncul sebagai isu medis, maka ia diselesaikan dalam kerangka medis. Bagaimana ia muncul dan menular, serta bagaimana ia ditanggulangi. Di sinilah letak dunia medis. Agama - sebagai salah satu ‘pranata sosial’ muncul ketika HIV/AIDS bersentuhan dengan dunia lain, meskipun -ironisnyaagama juga yang mengundang isu ini bersentuhan dengan dunia lain. Seperti biasa, tanggapan serta komentar pembaca, tetap menjadi prioritas kami.

Akhirnya, izinkan kami mengucapkan “selamat menjalankan ibadah puasa”, “selamat hari raya Idul Fitri”, mohon maaf lahir dan batin, semoga Allah menerima semua amal ibadah kita, dan bon apetit (selamat menikmati).

Redaksi