Lompat ke isi

Majalah Swara Rahima Edisi 15; HARAKAH NISAIYAH; Menembus Sekat-Sekat Dunia

Dari Kupipedia

Informasi Majalah:

Sumber : Swara Rahima
Nama Majalah : Majalah Swara Rahima
Tema : HARAKAH NISAIYAH; Menembus Sekat-Sekat Dunia
Seri : Nomor 15 Tahun V, Juli 2005
Penerbit : Rahima
Link Download : Download

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Pembaca...

Dalam rapat redaksi beberapa waktu lalu, masalah gerakan perempuan atau harakah nisaiyah muncul untuk dibahas sebagai tema sentral edisi ke-15 ini. Kalau pada edisi ke-11 Swara Rahima pernah mengangkat tema ukhuwah nisaiyah sebagai penyemangat bagi perjuangan hak-hak perempuan, maka tema kali ini dinilai penting karena memang ukhuwah nisaiyah adalah bagian yang dapat berwujud menjadi sebuah harakah nisaiyah. Tema ini disorot dan dianggap tepat, salah satunya setelah Rahima mengadakan diskusi reguler mengenai Gerakan Perempuan Islam Internasional beberapa bulan lalu dengan mengundang tokoh perempuan dari Hizbut Tahrir Indonesia, Women Living Under Moslem Law (WLUML), dan International Moslem Women Union (IMWU).

Tema gerakan perempuan dalam konteks ini akan dibedah tidak hanya dilihat dari potret sebuah organisasi perempuan Islam, tetapi juga geliat para perempuan dalam lingkar gerakan Islam. Bagaimana isu-isu yang berkaitan dengan ketidakadilan terhadap perempuan dalam Islam menjadi penyemangat untuk perempuan terus bergerak dari pinggir menuju ke tengah (from margin to center).

Pembaca yang dirahmati Allah…

Perempuan sering menjadi korban karena ada pandangan yang tidak adil terhadap relasi laki-laki dan perempuan yang berakibat pada pemahaman bahwa perempuan layak menjadi korban. Perempuan menjadi korban adalah karena dia berjenis kelamin perempuan. Inilah kenyataan yang kerap hadir di depan mata. Dan seringkali agama dan negara melegitimasi ketidakadilan tersebut. Sehingga nampaknya kemunculan gerakan perempuan terutama dalam wilayah Islam sudah sepatutnya ada sebagai respon sosial.

Tulisan dalam edisi kali ini mudah-mudahan dapat menjadi gambaran bahwa perempuan Islampun ‘bergerak’, terutama karena kepentingan perjuangan hak bersama.

Akhirnya...

Swara Rahima yang terbit di pertengahan tahun 2005 ini difokuskan pada tema besar di atas. Bagaimana gerakan perempuan dipotret dari segala penjuru, dari Eropa yang diwakili negara Perancis dan Jerman, Timur Tengah, dan juga dari Indonesia sendiri melalui sosok Kartini. Dari edisi ini pula muncul sebuah kritik oto-kritik tentang gerakan perempuan Islam yanng dinilai memerlukan isu baru, walaupun jejaring diantara perempuan internasional melalui WLUML dan IMWU telah demikian baik terjalin. Lalu dalam edisi kali ini pula ditegaskan kembali bahwa jaringan majlis taklimpun adalah bagian dari gerakan perempuan, seperti yang dinyatakan DR. Hj. Tutty Alawiyah, AS sebagai ketua Badan Kontak Majlis Ta’lim (BKMT). Bahkan gambaran pergulatan-pergulatan yang telah terjadi sejak awal Islam disajikan dengan jelas dalam fokus.

Redaksi berharap dengan sajian yang mungkin masih terbatas halaman ini, pembaca dapat menambah wawasan baru. Terutama untuk mengetahui gerakan perempuan dalam wilayah yang lebih luas lagi. Selamat membaca!

Redaksi