2023 Contestation between Fiqh and Culture in Indonesia: The Maqaṣid al-Shari’ah Paradigm in Dangers of Forced Marriage against Women
| Nama Jurnal | : | Sawwa: Jurnal Studi Gender |
| Seri | : | Vol 18, No 2 (2023): October |
| Tahun | : | 2023-10-30 |
| Judul Tulisan | : | Contestation between Fiqh and Culture in Indonesia: The Maqaṣid al-Shari’ah Paradigm in Dangers of Forced Marriage against Women |
| Penulis | : | Arifah Millati Agustina (Department of Islamic Family Law, Faculty of Sharia and Law, Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Tulungagung, Indonesia) |
Abstract
This article addresses the contentious issues between Islamic Jurisprudence (fiqh) and cultural practices related to forced marriage. Motivated by the widespread prevalence of forced marriage in society, often perpetuated with religious arguments, the research aims to provide insights into the meaning of the term “ijbar” in fiqh discourse. While fiqh interprets “ijbar” as a custodian’s right to coerce their daughter, the article highlights the specific term “ikrah” for coercion in Islamic law. Utilizing a qualitative method, the study involves document analysis through an in-depth examination of fiqh literature. Data sources include classical and contemporary jurisprudence literature, information on forced marriages in Indonesia, and religious fatwas from the Indonesian Women’s Ulama Congress (KUPI). The article argues that forced marriage contradicts the maqāṣid alsharī'ah, evidenced by spiritual and religious decline, domestic violence, restricted access to education, adverse reproductive effects, and limited economic resources.
Keywords: contestation; fiqh and culture; forced marriage; maqasid al-shariah
Abstrak
Artikel ini membahas isu-isu yang diperdebatkan antara Hukum Islam (fiqh) dan praktik-praktik budaya yang berkaitan dengan pernikahan paksa. Dimotivasi oleh prevalensi kawin paksa yang meluas di masyarakat, yang sering kali dilanggengkan dengan argumen agama, penelitian ini bertujuan untuk memberikan wawasan tentang makna istilah "ijbar" dalam wacana fiqh. Sementara fiqh mengartikan "ijbar" sebagai hak wali untuk memaksa anak perempuan mereka, artikel ini menyoroti istilah khusus "ikrah" untuk pemaksaan dalam hukum Islam. Dengan menggunakan metode kualitatif, penelitian ini melibatkan analisis dokumen melalui telaah mendalam terhadap literatur fiqh. Sumber data termasuk literatur fiqh klasik dan kontemporer, informasi tentang pernikahan paksa di Indonesia, dan fatwa-fatwa keagamaan dari Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI). Artikel ini berargumen bahwa kawin paksa bertentangan dengan maqaṣid al-shari'ah, yang dibuktikan dengan adanya kemerosotan spiritual dan agama, kekerasan dalam rumah tangga, terbatasnya akses pendidikan, dampak reproduksi yang merugikan, dan keterbatasan sumber daya ekonomi.
Kata Kunci: kontestasi; fikih dan budaya, pemaksaan perkawinan, maqasid al-shariah
Untuk membaca penuh artikel ini silahkan klik tautan berikut: https://doi.org/10.21580/sa.v18i2.17280