Lompat ke isi

2025 Isu Subordinasi Gender: Koloni Semut dalam Q.S. An-Naml: 18 Perspektif Tafsir Ilmi dan Teori Mubadalah

Dari Kupipedia
Revisi sejak 6 April 2026 09.50 oleh Agus Munawir (bicara | kontrib) (←Membuat halaman berisi '{{Infobox book|image=Berkas:Jurnal Tashdiq vol1 no1.jpg|italic title=Metode Qira’ah Mubadperan Wanita Dalam Kepemimpinan: Analisis Dan Penerapan|isbn=3030-8917|pub_date=2025-06-05|series=Vol. 14 No. 3 (2025)|author=*Syahri Al Hafidh (Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau) *Deffarul Syahroyza (Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau) *Anisa Cantika (Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau) *Laila Sari Masyhur (Universitas Islam Ne...')
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
JudulMetode Qira’ah Mubadperan Wanita Dalam Kepemimpinan: Analisis Dan Penerapan
Penulis
  • Syahri Al Hafidh (Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau)
  • Deffarul Syahroyza (Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau)
  • Anisa Cantika (Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau)
  • Laila Sari Masyhur (Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau)
SeriVol. 14 No. 3 (2025)
Tahun terbit
2025-06-05
ISBN3030-8917
Download PDF

Informasi Artikel Jurnal:

Sumber : Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah
Seri : Vol. 14 No. 3 (2025)
Penulis : Syahri Al Hafidh, Deffarul Syahroyza, Anisa Cantika, Laila Sari Masyhur
DOI : doi.org/10.3783/tashdiqv2i9.2461

Abstrak

Qira’ah Mubādalah is an interpretative method that emerges in response to religious interpretations that lean towards patriarchal and gender-biased perspectives. This research aims to reveal the necessity and significance of Qira’ah Mubadalah in comprehending verses of the Al-Qur'an that are frequently perceived as undermining women, particularly through an analysis of QS. An-Nisa verse 34. The approach adopted in this study is qualitative-descriptive utilizing a literature review methodology. This researchemploys contextual interpretation theory within a framework hermeneutika kesalingan (mubādalah) sebagaimana yang diusung oleh Faqihuddin Abdul Kodir. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Qira’ah Mubadalah menekankan saling keterkaitan antara pria dan wanita dalam hubungan sosial dan spiritual, serta menawarkan pendekatan interpretasi yang lebih setara terhadap teks-teks religius. Analisis terhadap QS. An-Nisa:34 melalui sudut pandang ini menghasilkan pemahaman yang tidak menempatkan pria sebagai pemimpin absolut, melainkan sebagai mitra yang setara dalam keluarga. Temuan ini selaras dengan pemikiran kesetaraan gender dalam Islam dan menegaskan bahwa metode Qira’ah Mubādalah sangat relevan untuk konteks sosial keagamaan zaman modern. Penelitian ini menegaskan pentingnya penafsiran ulang terhadap teks religius secara adil, inklusif, dan kontekstual.

Kata Kunci:Qira’ah Mubādalah; tafsir gender; An-Nisa:34; Faqihuddin Abdul Kodir; hermeneutics; intertextuality