Lompat ke isi

KUPI: Momen Tepat di Tengah Kuatnya Interpretasi Maskulinitas

Dari Kupipedia
Revisi sejak 9 April 2026 00.32 oleh Agus Munawir (bicara | kontrib)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Informasi Artikel Berita:

Sumber Original : Swara Rahima
Penulis : Swara Rahima
Tanggal Terbit : 3 April 2018
Artikel Lengkap : KUPI: Momen Tepat di Tengah Kuatnya Interpretasi Maskulinitas

Proses kultural yang cukup penting telah ditorehkan oleh perempuan-perempuan Islam Indonesia pada pelaksanaan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), 25-27 April 2017 di Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy Cirebon Jawa Barat. Kongres yang disebut-sebut sebagai pertama kalinya di dunia ini dihadiri lebih dari 700 ulama perempuan Indonesia—dari Aceh sampai Papua—dan 15 negara sahabat. Kongres yang diinisiasi oleh Rahima, Fahmina dan Alimat ini berisi serangkaian kegiatan, seperti seminar internasional dan nasional, diskusi, peluncuran karya keulamaan perempuan, pentas seni dan budaya, serta kegiatan sosial lainnya.

Kongres Ulama Perempuan Indonesia ini, jika dilihat dari perspektif historis pembentukan teologi klasik Islam yang menunjukkan terlalu kuatnya maskulinitas, menjadi penting untuk diletakan dalam sejarah. Sejarah Islam mencatat ulama perempuan telah menjadi bagian dari setiap peradaban ilmu pengetahuan. Namun, dalam lembaran-lembaran sejarah tidak banyak ditampakkan sebagaimana popularitas ulama laki-laki. Tidak kalah penting juga kiprah organisasi-organisasi perempuan di kalangan komunitas keagamaan, seperti Muslimat dan Fatayat di kalangan Nahdlatul Ulama (NU), Aisyiah dan Nasyiatul Aisyiyah (NA) di lingkungan Muhammadiyah, maupun Persistri di lingkungan organisasi Persatuan Islam (Persis). Kiprah mereka ini, sedikit banyak merupakan tanggapan dari adanya tuntutan agar perempuan mendapatkan ruang untuk ber-tafaqquh fid-dien, menuntut ilmu dan berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan.