Lompat ke isi

Difabel News Edisi 08; Refleksi Gempa 27 Mei 2006 Cerita Perempuan Korban Gempa Yogyakarta

Dari Kupipedia
Revisi sejak 14 April 2026 23.13 oleh Agus Munawir (bicara | kontrib)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Informasi Buletin:

JudulRefleksi Gempa 27 Mei 2006 Cerita Perempuan Korban Gempa Yogyakarta
SeriTh. X Mei 2010 Edisi 8
PenerbitSAPDA
Tahun terbit
Mei 2010
Download PDF
Sumber : SAPDA
Nama Buletin : Difabel News
Seri : Th. X Mei 2010 Edisi 8

Itulah semboyan hidup Ibu Sumartini warga Jogahan RT.05 Canden Jetis Bantul, yang selama 5 bulan menjalani opname di Rumah Sakit karena menjadi korban gempa, dan sekarang menjadi difabel tulang kaki patah dan tempurung lututnya hilang, Ibu Sumartini sekarang bergabung di kelompok perempuan difabel korban gempa Kecamatan Jetis.

“Saya dari dulu memang suka kerja, waktu masih lajang saya merantau ke Malaysia jadi TKW (Tenaga Kerja Wanita) selama 7 tahun, memang berniat cari modal untuk menyongsong masa depan yang lebih baik, setelah merasa dapat modal, lantas saya pulang ke rumah dan menikah, merintis membuka warung kelontong, lumayanlah untuk ukuran saya yang perekonomiannya lemah “ ujar Ibu Sumartini.

Tetapi semua itu hancur sudah begitu ada gempa, usaha dagang yang saya rintis selama bertahun-tahun musnah, hancur berkeping-keping, harta benda dan hati ini ikut hancur, apalagi setelah saya tahu kalau menjadi difabel, selama kurang lebih 2 tahun harus beradaptasi dengan kondisi badan saya, setiap hari meratapi nasib ini. Akan tetapi saya berpikir itu bukan jalan keluar untuk harus menyesali keadaan yang menimpa saya, karena akan memperburuk dan terjebak dalam keterpurukan.

Kebetulan saya mendapat bantuan dari PMI Jepang yang melalui Lembaga SAPDA, bantuan ini berbentuk peralatan yaitu peralatan untuk jualan es, yang saat itu memang menjadi pilihan saya untuk berjualan es, karena saya pikir kalau jualan es tidak perlu modal banyak. Memang saya sangat menyadarinya, sebagai seorang yang menjadi difabel karena gempa dan untuk berjualan hanya mempunyai modal sedikit, apalagi kehidupan di kampung diperlukan kerja keras untuk mendapatkan modal yang lebih besar, harus telaten dan tidak mudah pantang menyerah atau putus asa itu prinsipnya demi untuk membantu perekonomian keluarga, ditambah penghasilan dari suami yang tidak menentu karena hanya tergantung dari order proyek bangunan yang kadang-kadang ada kadang-kadang tidak ada proyek.