Difabel News Edisi 11; Kemerdekaan bagi Difabel?
Informasi Buletin:
| Judul | Kemerdekaan bagi Difabel? |
|---|---|
| Seri | Th. X Agustus 2010 Edisi 11 |
| Penerbit | SAPDA |
Tahun terbit | Agustus 2010 |
| Download PDF | |
| Sumber | : | SAPDA |
| Nama Buletin | : | Difabel News |
| Seri | : | Th. X Agustus 2010 Edisi 11 |
Tanggal 17 Agustus merupakan Hari Kemerdekaan untuk Bangsa Indonesia yang kita cintai ini, karena tidak semua orang bisa menikmati hari kemerdekaan RI, apalagi untuk kawan-kawan difabel. Selama ini kawan-kawan difabel selalu mendapatkan perlakuan diskriminasi, baik di tingkat keluarga, masyarakat ataupun pemerintahan. Difabel di Indonesia sering kali diposisikan sebagai kelompok minoritas, baik secara struktur maupun kultur. Lebih dari itu, mereka juga merupakan kelompok yang selama ini terpinggirkan di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat. Mereka terpinggirkan dalam berbagai dimensi mulai dari ekonomi, pendidikan, akses publik, akses pekerjaan, akses politik dan yang lainnya. Untuk itulah dalam momentum Hari Kemerdekaan yang ke 65 kali ini perlu dilakukan penyadaran kepada seluruh lapisan masyarakat baik dari pemangku kekuasaan, pemilik akses ekonomi hingga pengelola pendidikan untuk memiliki empati terhadap kalangan difabel. Masyarakat harus ditumbuhkan kepedulian terhadap hak-hak kaum difabel. Sebagai bukti masih rendah kepedulian mereka terhadap hak-hak para difabel. masih minimnya program-program maupun visi tentang keadilan difabel yang diangkat para politisi yang bertarung merebut kekuasaan. Padahal, dari tangan politisi inilah kebijakan pemerintah yang pro terhadap difabel dan prasarana yang akses terhadap difabel bisa terwujud. Para peminat kekuasaan itu baru memberikan akomodasi terhadap difabel manakala muncul desakan-desakan dari masyarakat.
Selain itu Program yang tercipta tidak mereka rancang secara matang dalam program-program partai politik maupun program sejak para politisi tersebut bertarung berebut kekuasaan. Kepedulian terhadap kaum difabel bukan berarti kita harus berbelas kasih. Bukan berarti kita menjadikan mereka sebagai lumbung kasihan. Tetapi, kepedulian terhadap kaum difabel adalah bagaimana kita bisa memberikan akses yang luas serta sebesar—besarnya dalam hidup bermasyarakat. Seperti yang disebut di atas tadi, harus diakui di Indonesia, kalangan difabel masih memiliki sejumlah kendala atau istilah ironisnya mereka belum merdeka. Padahal, kaum difabel juga ingin menikmati kemerdekaan dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya. Kendala atau kemerdekaan yang belum diraih kaum difabel di Indonesia antara lain bisa diklasifikasikan sebagai berikut: pertama, kaum difabel di tanah air masih memiliki kendala di bidang kultural. Selama ini, mereka masih dikungkung oleh persepsi masyarakat terhadap status mereka. Masyarakat masih menganggap kaum cacat tersebut adalah orang yang lemah dan patut untuk disantuni dan dibelaskasihi dari orang.