Lompat ke isi

Nyai, Kyai dan Pesantren

Dari Kupipedia
Revisi sejak 22 April 2026 16.05 oleh Agus Munawir (bicara | kontrib)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

"Tidak mudah menjadi seorang nyai/kiai apalagi kalau ia berhasil"

JudulNyai, Kiai dan Pesantren
PenulisSiti Zainab
Editor
  • Masruchah (Tim Redaksi)
  • Mukhotib MD, (Tim Redaksi)
  • Mohammad Najib, (Tim Redaksi)
  • Sri Hidayati (Tim Redaksi)
Desain coverHaitamy el Jaid
PenerbitYayasan Kesejahteraan Fatayat (YKKF)
Tahun terbit
Cetakan 1, Mei 2002
Halamanxvii + 121 hal
ISBN979-9652-8-1
(Download PDF)

UNGKAPAN tersebut bukanlah sesuatu yang mengada-ada. Sebaliknya ungkapan ini semakin menjadi kenyataan apabila kita membaca sekian jumlah pengalaman badal nyai/kiai pesantren Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang terlibat dalam program penguatan hak reproduksi perempuan yang dikelola oleh Yayasan Kesejahteraan Fatayat Yogyakarta dalam melakukan sosialisasi wacana adil jender melalui pengajaran kitab atau media pengajian dimana badal nyai/kiai ampu yang tervisualisasi dalam direktori ini. Yang paling terlihat adalah betapa sulitnya mereka menembus benteng pemahaman agama masyarakat yang sudah tertata rapi untuk dicoba lihat kembali mengingat realitas dunia selalu berubah. Walaupun mereka tahu bahwa misi agama itu adil, egaliter, demokratis yang tersembunyi dalam teks agama yang diam-tetapi kerelaan untuk membongkar dan dibongkar (dekonstruksi) bukan suatu hal yang mudah. Apalagi jika yang dicoba bongkar adalah pemahaman "bernuansa untung bagi laki-laki", yang kemudian dikaji untuk keadilan bersama yakni laki-laki dan perempuan.

Pengalaman rumit dari badal nyai/kiai dalam mensosialisasikan program penguatan hak reproduksi perempuan di masyarakat lingkungannya, bukanlah mengherankan. Hal ini juga dirasakan oleh YKF di awal program berjalan bersama mereka, betapa penolakan dan ketidak setujuan dari sebagian mereka untuk bagaimana berpikir dan berprilaku adil. Anggapan tidak pantas mengkritik fuqoha', ulama dan pemimpin Islam, juga tiadanya perempuan yang bisa menjadi pimpinan ataupun yang cerdas banyak bertaburan dalam suasana halaqoh di awal program. Walau ada sebagian dari mereka yang memilih diam dan apatis karena merasa jender dan isu hak reproduksi sebagai isu yang perlu dikaji secara jernih.

Gambaran atas sosok badal nyai/kiai dari awal terlibat program hingga kini yang kurang lebih selama 2 tahun program mereka ikuti, menyumbang terjadinya perubahan wacana dan sikap mereka terhadap keberpihakannya dalam upaya peneguhan kesehatan atas hak reproduksi perempuan di internal diri mereka dan aktualisasinya di lingkungan masyarakatnya, khususnya pesantren.

Otonomi dan tidaknya mereka dalam pesantren dapat kita terka dalam visualisasi singkat mereka dalam direktori ini. Meski kita sangat yakin ketertatihan yang mereka lewati dalam kerangka penegakan hak reproduksi di lingkungan pesantren tidak lepas dengan pelbagai strategi. Hanya saja otonomi diri dan posisi strategis yang dimiliki mereka akan berkait dengan berhasil tidaknya menembus "benteng kokoh" yang lebih hegemonik ketimbang teks-teks agama yang diam itu.

Direktori yang hadir dihadapan Anda ini pasti akan selalu berubah sesuai perubahan zaman, walau perubahan itu juga berkait dari lemah atau kuatnya sentuhan yang dialaminya.

Seluruh proses dan perubahan yang terjadi di ranah pesantren badal nyai/kiai tidak lepas dari dukungan kuat Ford Foundation Indonesia. Untuk itu diucapkan terima kasih kepada Ibu Meiwita P. Budiharsana selalu Program Officer Kesehatan Reproduksi, Jender dan Hak-hak Perempuan dan Ibu Suzanne E. Siskel selaku repre- sentative Ford Foundation Indonesia. Juga para badal nyai/kiai dan pengasuh pesantren yang terlibat di program penguatan hak reproduksi perempuan di lingkungan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta penghargaan kami sampaikan atas dukungan dan informasi yang diberikan, sehingga direktori ini dapat tersusun.

Yogyakarta, Mei 2002

Masruchah

Ketua Pelaksana YKF