2022 Ulama Perempuan Bergerak untuk Perubahan: Cerita Pemberdayaan Perempuan di Akar Rumput
| Judul | Ulama Perempuan Bergerak untuk Perubahan: Cerita Pemberdayaan Perempuan di Akar Rumput |
|---|---|
| Penulis |
|
| Editor |
|
| Penerbit | Rahima |
Tahun terbit | Cetakan Pertama, 2024 |
| Halaman | vi + 210 halaman |
| (Download PDF) | |
Alhamdulillah, buku cerita perubahan dengan judul “Ulama Perempuan Bergerak untuk Perubahan: Cerita Pemberdayaan Perempuan di Akar Rumput” telah terbit atas dukungan dari banyak pihak. Kami sangat bersyukur, karena buku ini merupakan buku ketiga yang menuliskan pengalaman para ulama perempuan secara lengkap mengenai perjuangannya dalam membangun komunitas untuk berdaya dan melakukan perubahan. Buku ini menceritakan sebelas pengalaman ulama perempuan alumni pendidikan PUP (Pengkaderan Ulama Perempuan) Rahima perwakilan dari lima angkatan, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan. Perbedaaan latar belakang wilayah, pengasuhan dalam keluarga, pendidikan, relasi dengan pasangan, dan lainnya menjadi dinamika dalam cerita sebelas ulama perempuan, terutama dalam menemukan jati diri mereka sebagai titik balik.
Sebagai seorang perempuan, para ulama perempuan menceritakan bagaimana norma budaya dan agama mengatur dengan sangat ketat kehidupannya, mulai kecil hingga menikah. Misalnya sejak kecil, perempuan diatur mulai dari permainan, pakaian, pendidikan, bahkan dalam ritual keagamaan. Memasuki usia remaja pun demikian, perempuan diatur atas dasar ‘pantas dan tidak pantas’ dalam norma budaya yang berkembang. Dalam norma agama, perempuan dihadapkan pada ajaran ‘baik dan tidak baik’ menurut standar atau cara pandang tokoh agama yang dipengaruhi cara pandang budaya. Dalam perkawinan, perempuan diposisikan sesuai dengan norma budaya dan agama yang menempatkan perempuan sebagai kelas dua dengan peran dan fungsinya yang
ada di ranah domestik termasuk pengasuhan. Implikasinya, ketika ada perempuan yang berada di luar norma tersebut, maka ia akan mendapat stigma negatif dari masyarakat. Cerita sebelas ulama perempuan yang dituangkan dalam buku ini, menunjukkan strategi yang mereka lakukan dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut.
Sebelas ulama perempuan ini menemukan titik balik dalam kehidupannya dimulai dari pengasuhan di dalam keluarga. Dalam pengasuhan, mereka mendapatkan keteladanan dari orang tua dalam bertindak dan bersikap pada anak, serta dukungan dan harapan keluarga, yang dapat berkontribusi dalam proses menemukan jati dirinya. Saat remaja, mereka akan dihadapkan pada lingkungan yang beragam, termasuk pendidikan agama yang mereka dapatkan. Pada fase ini ulama perempuan menceritakan stagnasi dalam berpikir kritis ketika dihadapkan pada dogma agama yang diskriminatif seakan itu menjadi sebuah kebenaran mutlak. Namun, di satu sisi seiring dengan meluasnya pengetahuan, pertemanan, dan pengalaman berorganisasi, mereka menemukan secercah harapan yang membuat mereka berpikir kembali memaknai diri dan kehidupannya.
Persentuhan dengan Rahima, terutama pada pendidikan PUP seperti menemukan keluarga baru dalam menemukan identitas diri dan menjadi teman dalam bertumbuh membangun mimpi dan harapan. Ikatan yang kuat antara tim Rahima dengan peserta pendidikan PUP maupun sesama peserta pendidikan, telah melahirkan berbagai inisiatif ulama perempuan dalam merespons problem kehidupan perempuan di komunitas.
Kami sangat bangga dengan berbagai inisiatif yang dilakukan para ulama perempuan di komunitas yang sangat beragam, termasuk menyentuh anak muda dan perempuan kepala keluarga. Upaya yang dibangun tersebut sangat dinamis dan inovatif dalam menjawab kebutuhan dan tantangan yang mereka hadapi. Kemampuan dalam membangun jaringan dan kolaborasi telah memperkuat upaya pemberdayaan yang mereka lakukan di komunitas. Kepemimpinan yang dibangun oleh sebelas ulama perempuan ini tidak lagi bersifat terpusat, melainkan berbasis kolektif yang memastikan semua anggota merasa memiliki dan dihargai. Kepemimpinan ulama perempuan ini menjadi harapan ke depan dalam membangun masyarakat yang adil dan beradab.
Buku ini bukanlah buku yang terakhir dan sebab itu kami berharap akan ada buku-buku berikutnya yang mengangkat cerita para ulama perempuan terutama alumni dari pendidikan PUP Rahima maupun pendidikan untuk para tokoh agama. Kami menyadari buku ini masih memiliki kekurangan, karena itu masukan dan kritikan dari para pembaca sangat kami harapkan.
Buku ini tidak akan hadir tanpa dukungan banyak pihak. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak khususnya kepada We Lead dan kemitraan Global Affairs Canada yang telah mendukung lahirnya buku ini. Kepada Irma Riyani, Ratnasari, Andi Nur Faizah, sebagai tim penulis yang telah berjuang di tengah kesibukannya. Terima kasih kepada editor AD Kusumaningtyas dan Andi Nur Faizah. Kepada seluruh tim Rahima, Ricky, Isthi, Gina, Frans, Binta, dan Kahfi.
Jakarta, 13 Desember 2022
Pera Sopariyanti (Direktur Rahima)