2026 Qiraah Mubadalah: Sebuah Alternatif Metode Tafsir Dan Praktek Kehidupan
Abstrak
| Judul | Qiraah Mubadalah: Sebuah Alternatif Metode Tafsir Dan Praktek Kehidupan |
|---|---|
| Penulis |
|
| Seri | Vol. 4 No. 1 (2026) |
Tahun terbit | 2026-01-26 |
| ISSN | 3026-2917 |
| DOI | doi.org/10.61104/alz.v4i1.4185 |
| Sumber Original | Al-Zayn; Jurnal Ilmu Sosial & Hukum |
| (Download Original) [(Download Alternatif)] | |
Artikel ini mengkaji Qiraah Mubadalah sebagai metode tafsir yang ditujukan untuk mengoreksi bias patriarkal dalam penafsiran teks keagamaan. Selama ini, sebagian tafsir Al-Qur’an dan hadis cenderung memosisikan perempuan secara subordinat, padahal Islam berlandaskan keadilan, kesalingan, dan penghormatan martabat manusia. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan pendekatan hermeneutis untuk menelaah konsep dasar Mubadalah, landasan teologisnya dalam tauhid, serta penerapannya pada ayat dan hadis yang berkaitan dengan relasi gender. Hasil kajian menunjukkan bahwa Mubadalah menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai subjek moral yang setara, dengan prinsip bahwa nilai etis dalam teks berlaku timbal balik selama tidak ada dalil khusus yang membatasinya. Pendekatan ini menghasilkan pembacaan yang lebih kontekstual dan adil, sekaligus menawarkan paradigma kemitraan dalam keluarga dan masyarakat. Dengan demikian, Qiraah Mubadalah relevan sebagai alternatif metode tafsir yang mendukung keadilan gender dalam kerangka syariat.
Kata Kunci: Qiraah Mubadalah, tafsir, gender, kesalingan, hermeneutika
Abstract: This article examines Qiraah Mubadalah as a method of interpretation aimed at correcting patriarchal bias in the interpretation of religious texts. Until now, some interpretations of the Qur'an and hadith have tended to position women as subordinate, even though Islam is based on justice, reciprocity, and respect for human dignity. This study uses a library research method with a hermeneutic approach to examine the basic concepts of Mubadalah, its theological foundations in tawhid, and its application to versesand hadiths related to gender relations. The results of the study show that Mubadalah places men and women as equal moral subjects, with the principle that ethical values in the text apply reciprocally as long as there are no specific arguments that limitthem. This approach produces a more contextual and fair reading, while offering a paradigm of partnership in the family and society. Thus, Qiraah Mubadalah is relevant as an alternative method of interpretation that supports gender justice within the framework of Sharia.
Keywords: Qiraah Mubadalah, interpretation, gender, reciprocity, hermeneutics