Lompat ke isi

Blakasuta Edisi 13 Arjawinangun Beragam dalam Bentuk, Satu dalam Harmoni

Dari Kupipedia
JudulArjawinangun Beragam dalam Bentuk, Satu dalam Harmoni
SeriVolume 13 Tahun 2008
DiterbitkanFahmina Institute
SumberYayasan Fahmina
Download PDF

Orang seringkali merasa terganggu dengan orang lain yang berbeda. Berbeda bahasa, negara, etnik, suku, jenis kelamin, pemikiran, pandangan hidup, bahkan agama, kelompok, golongan dan partai politik. Tidak sedikit yang merasa terancam dengan adanya perbedaan-perbedaan. Orang lain yang dianggap berbeda dicurigai akan menguasai, memaksa dan merebut.

Sejatinya, dalam ajaran Islam, perbedaan adalah kenyataan dan ciptaan Allah SWT. Ini tidak mungkin akan terhapus atau hilang dari kehidupan. Siapa pun yang akan mengusahakan penghapusan perbedaan, dengan melakukan penyeragaman, pasti akan sia-sia. Karena ketika persamaan itu sudah ditemukan, maka pasti di dalamnya akan ada perbedaan-perbedaan lain yang mungkin belum disadari sebelumnya. Jika pengakuan dan penghargaan terhadap perbedaan tidak dijadikan sikap dan semangat dalam hidup, maka konflik dan peperangan tidak akan pernah bisa dihindari. Yang awalnya mungkin konflik dengan orang yang dianggap lain dan berbeda, jika selesai, maka akan berlanjut pada konflik dengan mereka yang awalnya dianggap teman dan sahabat.

Perbedaan-perbedaan yang terjadi di Indonesia adalah kekayaan yang patut disyukuri. Indonesia adalah negara besar, dengan jumlah pulau, bahasa, tradisi dan kelompok-kelompok etnik dan suku yang sangat beragam. Telah lama, tradisi dan etika kebangsaan kita mampu melampaui 'perbedaan-perbedaan' ini dengan tanpa saling menghancurkan, sebagaimana mungkin terjadi di negara-negara lain, seperti seperti di Timur Tengah. Sekali lagi, pebedaan ini adalah kekayaan yang tidak ternilai.

Dengan berbekal kesadaran di atas, Blakasuta edisi 13 ini meliput perbedaan dan keragaman yang terdapat di Arjawinangun Cirebon. Daerah yang terletak di kabupaten Cirebon bagian Barat ini meski tidak terlalu luas, ia dihuni beragam etnis, budaya dan agama sejak lama. Etnis Tionghoa, Jawa, Sunda dan Batak hidup berdampingan secara damai. Pemeluk agama yang berbeda-beda pun hidup rukun dan bahkan saling melindungi. Arjawinangun adalah desa percontohan bagi pola hidup damai dalam keragaman bagi desa-desa negeri ini.

Sebagaimana edisi-edisi sebelumnya, kali ini liputan blakasuta diisi oleh laporan perjalanan redaksi di Arjawinangun. Pada rubrik fikiran dimuat tulisan Kang Faqih seputar Jurnalisme Kemanusiaan Islam. Artikel ini mengenalkan berbagai model jurnalisme dengan penekanan pentingnya keberpihakan jurnalisme pada pihak-pihak yang dilemahkan. Pada rubrik pengalaman, Ali Mursyid menuturkan pengalaman hidup KH. Syathori dalam membangun masyarakat Arjawinangun yang beragam. Sementara pada rubrik Srikandi diangkat juga sosok dokter perempuan Tionghoa yang gemar melakukan pengobatan gratis bagi warga. Sedangkan rubrik-rubrik lain disajikan selain sebagai sarana tukar informasi antar radio komunitas, juga untuk memperkaya dan memperkuat opini, wacana, dan berita yang ada. Selamat Membaca!