Lompat ke isi

Blakasuta Edisi 22 Berguru Polmas pada Yogyakarta dan Surabaya

Dari Kupipedia
JudulBerguru Polmas pada Yogyakarta dan Surabaya
SeriVolume 22 Agustus 2009
DiterbitkanFahmina Institute
SumberYayasan Fahmina
Download PDF

"What I hear I forget; What I see I remember; What I do I understand." Apa yang aku dengan aku lupa; Apa yang aku lihat aku ingat; Apa yang aku lakukan aku paham (Confusius, 551 SM-479 SM)

Learning from Mongkeys (Belajar dari Monyet) adalah judul buku karya Rung Kaewdang, ketua reformasi pendidikan Thailand. Buku ini mengisahkan seorang guru Akademi Pelatihan Monyet Surat Thani bernama Khruu Somporn. Khruu Somporn adlaah sosok guru yang mengandrungi teori Bhudish dan tokoh pendidikan John Dewey bahwa cara belajar yang paling baik adalah dengan melakukan.

Rung Kaewdang melirik Khruu Somporn ketika pendidikan di Thailand berada di bibir jurang kehancuran. Pendidikan model kasih sayang, belajar dengan melakukan, bergerak dari yang mudah ke yang sulit, membuat belajar menyenangkan menginspirasi dan menjadi obor kebangkitan dari kebangkrutan. Akademi monyet melahirkan lulusan yang memiliki standart mutu tinggi, mulai dari sekedar menjadi monyet pemetik buah kelapa, monyet penjaga rumah, monyet pemain sirkus, hingga menjadi monyet bintang film. Monyet-monyet yang ada dalam film-film produksi Amreika-Eropa mayoritas jebolan Akademi Pelatihan Monyet Surat Thani asuhan Khruu Somporn.

Benar manusia tidak sama dengan monyet. Tetapi prinsip perhatian, keramahan, toleransi, inovasi, dan penemuan teknik-teknik baru dapat diterapkan dalam pendidikan manapun. Kalimat penutup buku ini sungguh menantang, "monkey's can learn, Why can't out student?" (monyet dapat belajar, kenapa anak didik kita tidak?). Belajar dan menemukan pengetahuan baru adalah puncak upaya manusia dan akan membantu sesama manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang terbaik. Pembaruan pendidikan di Thailand dengan model ini, kini menjadi rujukan hampir seluruh dunia.

Apa yang dilakukan Khruu Somporn bagi kaum pergerakan bukanlah hal baru. Bahkan, salah satu sumbangan terbesar bagi kelompok gerakan sosial adalah mengenalkan, mengampanyekan dan menerapkan model "belajar dengan melakukan" (I do I understand) kepada seluruh masyarakat termasuk penyelenggara negara dihampir seluruh dunia. Model ini tidak begitu tampak bersinar dalam waktu lama karena mengajarkan cara berfikir kritis, sehingga banyak ditampik oleh penguasa. Baru belakangan model pendidikan dari kelompok gerakan sosial dijadikan alternatif, meskipun ternyata tidak tuntas.

Belajar dengan melakukan dalam program COP dapat dijadikan salah satu contoh, bagaimana program ini menjadi katalisator perubahan dan penemuan baru yang menjadi genius lokal di masing-masing tempat. di Jawa Timur yang salah satunya difokuskan di Gang Dolly, konon tempat lokalisasi (prostitusi) terbesar di asia tenggara. Melalui FKPM Gang Dolly, masyarakat setempat misalnya menyepakati tidak menerima atau mempekerjakan anak-anak. Bila ada yang melanggar maka akan dikenai sanksi sosial sesuai kesepakatan.

COP di Yogyakarta juga memiliki kekhasan, terutama yang ada di Malioboro. Jogja yang dikenal sebagai Indonesia mini, bahkan miniatur dunia, sesungguhnya pertemuannya tumpah di Malioboro. Sebagai pusat pertemuan, Malioboro bukanlah wilayah yang setara dengan daerah lain. Malioboro penuh dengan eksotisme. Segala binar kemewahan hingga kejamnya kriminal jalanan dan keserakahan memanunggal. Aktifis COP yang digalan Pusham UII bergerak di wilayah unik ini dan mampu menjalin silaturahim dan kemesraan untuk kebajikan bersama.