MODUL MADRASAH RAHIMA UNTUK TOKOH AGAMA Upaya Penghapusan Kekerasan Berbasis Gender
Informasi Buku:
| Sumber | : | Swara Rahima |
| Judul Buku | : | MODUL MADRASAH RAHIMA UNTUK TOKOH AGAMA Upaya Penghapusan Kekerasan Berbasis Gender |
| Penulis | : | Pera Sopariyanti, Andi Nur Faizah |
| Editor | : | Ahmad Thohir |
| Tahun Terbit | : | Cetakan I, September 2020 |
| Penerbit | : | Rahima |
| Link Download | : | Download |
| Seri | Cetakan I, September 2020 |
|---|---|
| Penerbit | Rahima |
| Halaman | xxiv + 117 halaman |
| ISBN | - |
| Download Buku | |
Alhamdulillah, puji syukur dipanjatkan ke hadirat Allah Swt, mengiringi terbitnya buku Modul Madrasah Rahima untuk Tokoh Agama. Modul ini merupakan hasil kerja sama Rahima dan Rutgers WPF Indonesia. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah untuk Rasulullah saw, manusia agung yang diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia dan menjadi rahmat bagi alam semesta.
Rahima baru saja genap berusia 20 tahun pada penghujung Agustus 2020. Berbagai dinamika dalam rentang usia tersebut menjadikan Rahima kian “matang” dalam mewujudkan visi sebagai pusat pendidikan dan informasi Islam dan hak-hak perempuan. Tentu saja tidak sedikit kendala dan rintangan, namun Rahima berhasil menjadikannya pelajaran untuk berbenah menapaki tantangan zaman yang tentunya semakin kompleks. Rahima tetap berikhtiar senantiasa konsisten sebagai bagian gerakan anti ketidakadilan maupun diskriminasi terhadap perempuan di Indonesia.
Sebagai jawaban terhadap problematika saat ini, pada usianya yang ke-20 Rahima memilih tagline Ulama Perempuan untuk Kemaslahatan Manusia dan Penyelamatan Alam. Ulama Perempuan sebagai simpul Rahima tersebar di 9 provinsi di Indonesia. Melalui berbagai keragaman lokalitasnya, mereka tidak hentinya bergerak maupun melakukan pendampingan untuk menyebarkan kebaikan, keadilan, serta kemaslahatan. Semangat itu pulalah yang menjadi spirit Rahima untuk terus melangkah bersama para simpul dalam misi mewujudkan kultur dan struktur yang berkeadilan, ditandai dengan terpenuhinya hak-hak perempuan sebagai hak asasi manusia.
Dalam mewujudkan misi di atas, Rahima mengembangkan dua pendekatan yaitu melalui pendidikan termasuk di dalamnya pendampingan bagi simpul dan penyebaran informasi. Pada pendidikan, Rahima telah melakukan pendidikan tidak hanya untuk perempuan tetapi juga bagi laki-laki dan lembaga-lembaga di mana wacana relasi perempuan dan laki-laki diproduksi dan direproduksi. Mereka adalah para tokoh agama dari pesantren, majelis taklim, para dosen dari perguruan tinggi Islam, para guru agama Islam dari sekolah negeri maupun swasta, instansi KUA, mahasiswa, santri, dan lain sebagainya.
Dalam penyebaran informasi, Rahima telah menyebarkan gagasan Islam adil gender melalui media cetak maupun online. Pada media cetak, Rahima secara rutin sejak tahun 2001 hingga kini memproduksi majalah Swara Rahima yang membahas isu-isu perempuan serta strategi dalam upaya mewujudkan kehidupan yang adil dan setara. Selain majalah, Rahima juga menerbitkan bukubuku, modul, suplemen, buletin, leaflet, stiker, dan lain sebagainya. Sedangkan media online Rahima yakni berupa website, Youtube, Facebook, Instagram, Twitter, dan Podcast.
Modul Madrasah Rahima untuk Tokoh Agama ini merupakan panduan untuk penguatan tokoh agama. Modul ini telah diadaptasi dari draft awal yang disusun pada tahun 2018 dan telah diuji coba dalam pendidikan yang melibatkan Kepala KUA dan Penghulu di empat kabupaten, yaitu Gunungkidul, Kulon Progo, Lampung Timur, dan Tanggamus pada tahun 2018. Namun demikian, penguatan untuk KUA ini tidak berhenti sampai di tahun 2018. Rahima tetap melakukan penguatan kepada mereka di tahun 2019, baik untuk penguatan kapasitas maupun strategi bagaimana upaya pencegahan kekerasan berbasis gender ini dapat terintegrasi dalam kerja-kerja mereka di KUA. Hal ini sebagai upaya memperkuat tugas dan fungsi KUA dalam memberikan pelayanan dan bimbingan keluarga sakinah sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Menteri Agama No. 34 Tahun 2016.
Awalnya modul ini dirancang untuk rencana pendidikan dengan lima kali kegiatan, masing-masing memerlukan tiga sampai empat hari. Sebagaimana diaplikasi dalam modul-modul Rahima sebelumnya, seperti Pendidikan Pengkaderan Ulama Perempuan (PUP) maupun untuk MGMP PAI (Musyawarah Guru Mata Pelajaran PAI) tingkat SMA. Namun dalam uji coba, dengan berbagai pertimbangan teknis pelaksanaan, materi dalam modul ini efektif dilaksanakan dalam satu kali pertemuan. Dari pengalaman tersebut, maka Modul Tokoh Agama ini mengalami penyesuaian dengan materi yang lebih padat untuk kegiatan selama empat hari. Modul ini memuat sebagian besar draft awal dengan mengadopsi materimateri mendasar dengan pendekatan pendidikan orang dewasa yang telah lama dikembangkan dalam setiap pendidikan Rahima.
Melalui rencana pendidikan dalam modul ini, peserta dilatih untuk memiliki kepekaan sosial dengan materi analisis gender, kesehatan reproduksi, serta diperkuat dengan metodologi tafsir transformatif berupa metodologi Qiro’ah Mubadalah dan Keadilan Hakiki. Modul ini mencakup rencana fasilitasi dalam empat hari. Hari pertama memuat perkenalan, membangun kontrak belajar, menyepakati materi pembelajaran, dan mengenal pembedaan laki-laki dan perempuan. Hari kedua, mengenal hakikat menjadi laki-laki dan perempuan dengan melihat pengalaman biologis dan sosial laki-laki dan perempuan, dampak ketidakadilan bagi keduanya atas konstruksi yang dilekatkan oleh masyarakat, mengenal lapisan-lapisan perubahan (menggunakan ekologi perubahan), serta mengenal dampak ketidakadilan dengan menggunakan metode gender walk sebagai salah satu pendekatan pendidikan GTA (Gender Transformatif Approach). Pada sesi kedua ini peserta diajak berefleksi dari pengalaman laki-laki dan perempuan untuk membangun rasa peduli dan empati atas ketidakadilan, utamanya yang dirasakan perempuan. Pada sesi akhir para peserta dibekali materi dasar terkait dengan Islam, mulai dari tujuan dan nilai-nilai universal Islam sebagai pengantar hari ketiga yang membahas metodologi tafsir.
Hari ketiga, peserta dibekali materi tafsir transformatif berupa pendekatan Qiro’ah Mubadalah dan Keadilan Hakiki. Materi ini sebagai respons atas persoalan ketidakadilan yang ditemukan pada sesi hari sebelumnya. Pendekatan Keadilan Hakiki mengenalkan kemanusiaan laki-laki dan perempuan dengan mempertimbangkan pengalaman biologis dan sosial keduanya dengan menggunakan pendekatan Islam yang rahmatan lil alamiin. Sementara Mubadalah (kesalingan) merupakan pendekatan memahami teks, baik Alquran maupun Hadis Nabi yang berorientasi pada keadilan bagi laki-laki dan perempuan. Pada hari keempat, peserta diajak berdiskusi tentang hak asasi manusia dan hak asasi perempuan, serta upaya untuk menguatkan hak-hak tersebut dalam kerja-kerja mereka baik sebagai individu (ayah/suami/istri/ibu) juga sebagai tokoh agama dan kepala KUA. Hal ini dirumuskan dalam rencana tindak lanjut (RTL) yang akan dilakukan oleh masing-masing peserta pasca pendidikan.
Terakhir, atas nama Rahima kami ucapkan terima kasih kepada tim penyusun draft modul pertama yang dinahkodai Ibu AD. Eridani selaku direktur Rahima pada saat itu bersama tim yang terlibat khususnya Mawardi. Terima kasih kami ucapkan kepada para kontributor sekaligus fasilitator yang telah menemani proses pendidikan untuk para tokoh agama, yaitu KH. Helmi Ali, KH. Dr. Faqihuddin Abdul Kodir, Nyai Dr. Nur Rofi’ah, Nyai Hj. Masruchah, dan seluruh pihak yang pernah menemani proses pendidikan ini. Terima kasih kami ucapkan juga kepada Ibu Farha Ciciek selaku ketua Pengurus Perhipunan Rahima. Tak lupa ucapan terima kasih juga kami ucapkan kepada Kang Ahmad Thohir sebagai editor modul ini, juga untuk Suryanda sebagai layouter dan @ipedesain yang telah mendesain buku modul dengan baik. Terima kasih untuk Andi Nur Faizah, koordinator program yang telah menemani saya merajut kembali pengalaman yang sudah dilakukan menjadi bagian penting dalam modul ini. Terima kasih untuk semua tim Rahima Isthiqonita, Ricky Priangga, Binta Rati, M. Syafran, Gina Utami, dan Kahfi Julianto yang tak kenal lelah menyertai dalam seluruh kegiatan Rahima termasuk dalam proses penyusunan modul ini. Terakhir, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Rutgers WPF Indonesia dalam hal ini program Prevention+ yang telah mendukung lahirnya buku ini.
Semoga modul ini dapat memberi manfaat bagi siapun yang hendak melakukan upaya pendidikan bagi tokoh agama dalam upaya membangun keluarga, masyarakat, dan bangsa yang sejahtera dan beradab.
Wallahu a’lamu bi as-shawab.
Jakarta, 15 September 2020
Pera Sopariyanti (Direktur Rahima)