Membangun Kesadaran Inklusif dan Melawan Stigma
Informasi Artikel:
| Sumber Original | : | Yayasan Fahmina |
| Tanggal Terbit | : | 17 Desember 2025 |
| Penulis | : | Dara Assyifa |
| Artikel Lengkap | : | Membangun Kesadaran Inklusif dan Melawan Stigma |
Dalam rangkaian kegiatan Pelatihan Penguatan Hak-Hak Disabilitas bagi Ulama Perempuan yang diselenggarakan oleh Yayasan Fahmina, para peserta diajak menggali lebih dalam pemahaman mengenai disabilitas, bukan sekadar sebagai kondisi fisik, tetapi sebagai konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh lingkungan, kebijakan, serta cara pandang masyarakat.
Kegiatan ini diikuti oleh 25 ulama perempuan dari berbagai kota seperti Cirebon, Yogyakarta, Semarang, Malang, dan Tulungagung. Pelatihan ini dipandu oleh Nurul Saadah Andriani, advokat hukum disabilitas dan fasilitator berpengalaman dalam isu-isu inklusi pendiri Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak (SAPDA Jogj).
Menembus Batas: Disabilitas dalam Lensa Sosial dan Keagamaan
Siti Rofiah, peserta asal Semarang, menyoroti keterbatasan bahasa sebagai hambatan utama dalam dunia pendidikan keagamaan. “Tidak semua guru ngaji bisa terkoneksi langsung dengan penyandang disabilitas karena keterbatasan pemahaman bahasa dan akses,” ujarnya.
Senada dengan itu, Saadah, fasilitator pelatihan, mengingatkan bahwa lebih dari 8% populasi Indonesia adalah penyandang disabilitas, baik yang terlihat secara fisik maupun tidak. “Disabilitas bukan sekadar soal tubuh yang berbeda, tetapi juga lingkungan yang tidak mendukung. Hambatan sosial, infrastruktur, dan stigma masih menjadi penghalang utama,” tegasnya.