Lompat ke isi

Suplemen Swara Rahima Edisi 28 Ramadhan dan Keberpihakan kepada Kaum Papa

Dari Kupipedia

Informasi Suplemen:

Sumber : Swara Rahima
Tema : Ramadhan dan Keberpihakan kepada Kaum Papa
Penulis : Hj. Afwah Mumtazah Fuad
Editor : AD. Kusumaningtyas
Seri : Edisi 28, Agustus 2009
Penerbit : Rahima
Link Download : Download
Suplemen Swara Rahima Edisi 28 Ramadhan dan Keberpihakan kepada Kaum Papa
JudulSuplemen Swara Rahima Edisi 28
SeriEdisi 28, Agustus 2009
PenerbitRahima
Download Suplemen

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Syukur Alhamdulillah, ke hadirat Ilahi Rabbi yang telah mengutus Nabi Muhammad saw. untuk mengangkat harkat diri manusia, laki-laki dan perempuan. Swara Rahima edisi ke-28, hadir kembali dengan kajian Suplemen bertema Refleksi Ramadhan untuk Pekerja Perempuan yang Termarjinalkan.

Memaknai bulan Ramadhan tidaklah hanya dalam pengertian ritual ibadah semata, dimana di dalamnya setumpuk amalan ibadah dapat dikerjakan, baik secara kolektif maupun individu. Mulai dari puasa menahan makan, minum, dan hawa nafsu, atau tarawih bersama, tadarus Alquran, maupun zikir di masjid untuk memperbanyak mengingat Allah swt. Lebih dari itu, ibadah Ramadhan seharusnya dapat memunculkan sikap nyata sebagai bentuk relasi kehidupan kita dengan sesama (hablun min al-naas), setelah membangun relasi baik dengan Tuhan (hablun min Allah) melalui ibadah-ibadah tersebut. Salah satu jalan utama membangun sikap nyata itu adalah dengan mengakui dan memenuhi hak-hak sesama, terutama para Pekerja Rumah Tangga (PRT) di rumah kita yang selama ini telah banyak berjasa.

Di bulan Ramadhan seperti sekarang ini, seorang PRT juga memiliki pengharapan yang sama dengan para majikannya atau pengguna jasanya, untuk dapat merasakan nikmat bulan penuh berkah ini. Sebagai hamba Allah, tentu mereka ingin menjalankan amalan-amalan ibadah selama bulan Ramadhan. Apalagi saat lebaran tiba, sebagai insan yang menanggung rindu karena berbulanbulan tak bersilaturrahmi dengan keluarga, mereka juga pasti ingin segera bertemu, berbagi kegembiraan dan berlebaran bersama kerabat. Sayangnya, tidak semua dari mereka bisa memperoleh hak dan kesempatan itu. Padahal semua itu adalah sebagian dari hak yang mereka miliki.

Memang, PRT selama ini masih dipandang sebelah mata oleh sebagian kita. Kita lupa bahwa mereka juga memiliki hak-hak dasar sebagai pekerja sekaligus manusia. Selama ini disadari atau tidak, pengertian yang mengendap dalam pemahaman kita masih menempatkan PRT sebagai “pembantu rumah tangga” bukan sebagai “pekerja” yang mengerjakan seluruh tugas-tugas rumah tangga kita. Mestinya, pemahaman itu sudah bergeser kepada pengertian “pekerja rumah tangga”. Sehingga sikap dan pandangan kita terhadap mereka lebih memuliakan mereka, dari pada sekedar memperlakukan sebagai “pembantu” tanpa hak-hak dasar yang sepantasnya mereka terima. Sebab, baik pengguna jasa maupun PRT tak ada kelebihan di antara keduanya. Mereka saling membutuhkan satu sama lain. PRT memiliki jasa untuk ditukarkan dengan upah yang layak dengan mengerjakan pekerjaan domestik kita. Terlebih lagi, semangat mereka bekerja, mencari rejeki Allah swt. di muka bumi adalah bukti kemuliaan yang mereka miliki, untuk tidak bergantung pada orang lain. “Dan bagi masing-masing mereka mendapatkan derajat dari apa yang mereka kerjakan, dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan, rejeki) pekerjaan- pekerjaan mereka, sedang mereka tiada dirugikan”. (Qs. Al-Qaaf: 19)

Lalu bagaimana kita harus merefleksikan ibadahibadah kita di bulan Ramadhan ini, agar kita dapat lebih menghargai hak-hak PRT kita? Hj. Afwah Mumtazah Fuad, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Kempek Gempol Cirebon, yang sekaligus mudiroh Madrasah Takhasus lil Banat (MTLB) pada pesantren tersebut, dalam kajian ini menguraikan kepada kita terkait hal tersebut. Ajakannya untuk berefleksi terhadap makna puasa dan Ramadhan ini, sangat menarik kita kaji. Mudah-mudahan ini akan menambah semangat kita dalam menegakkan keadilan bagi sesama. Selamat berpuasa.

Selamat membaca!

Wassalamu’alikum Wr. Wb.

Jakarta, Agustus 2009

Redaksi