Ulama Perempuan Konsolidasikan Peran Keulamaan untuk Pemenuhan Hak-hak Disabilitas
Informasi Artikel:
| Sumber Original | : | Yayasan Fahmina |
| Tanggal Terbit | : | 10 Juli 2025 |
| Penulis | : | Zarnal Abidin |
| Artikel Lengkap | : | Ulama Perempuan Konsolidasikan Peran Keulamaan untuk Pemenuhan Hak-hak Disabilitas |
Yogyakarta — Upaya memperkuat keulamaan yang berpihak pada penyandang disabilitas terus digerakkan oleh jaringan Ulama Perempuan Indonesia. Kamis (11/12/2025), Konsolidasi Ulama Perempuan Indonesia bertajuk “Memperkuat Peran Keulamaan untuk Hak-Hak Disabilitas di Indonesia” digelar di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta. Forum ini menjadi ruang temu ulama perempuan, penyandang disabilitas, akademisi, aktivis, serta pemangku kebijakan untuk merumuskan peran strategis agama dalam memperjuangkan keadilan dan inklusivitas.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian penguatan menuju Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) dan diinisiasi oleh Yayasan Fahmina bekerja sama dengan Center for GEDSI UNU Yogyakarta. Sekitar 40 peserta hadir secara luring dalam suasana dialogis dan reflektif, membahas bagaimana ajaran Islam dapat ditransformasikan menjadi kekuatan moral untuk meneguhkan hak-hak penyandang disabilitas.
UNU Yogyakarta dan Ikhtiar Kampus Inklusif
Pelaksana Harian Rektor UNU Yogyakarta, Dr. Suhadi, M.A., dalam sambutannya menegaskan komitmen kampus untuk menjadi ruang belajar yang inklusif dan aman bagi semua. Sejak berdiri pada 2017, UNU Yogyakarta menyadari posisinya sebagai kampus baru yang harus memiliki ciri keberpihakan sosial.
“Kami membangun kampus dengan kesadaran bahwa inklusivitas bukan tambahan, tetapi prinsip. GEDSI dibentuk sejak awal pembangunan gedung untuk memastikan kampus ramah disabilitas dan responsif terhadap kekerasan berbasis gender,” ujar Suhadi.