Lompat ke isi

2025 Hadis-Hadis Pendidikan Laki-Laki dan Perempuan: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi '{{Infobox Jurnal Ilmiah|italic title=Transformasi Pasangan Kawin Paksa Menuju Keluarga Sakinah di Desa Bangkes Kecamatan Kadur Kabupaten Pamekasan: Studi Penerapan Konsep Mubadalah|author=*Khoirinnisak (Program Studi Hukum Keluarga Islam Pascasarjana UIN Madura) *Habib (Program Studi Hukum Keluarga Islam Pascasarjana UIN Madura)|title_orig=Transformasi Pasangan Kawin Paksa Menuju Keluarga Sakinah di Desa Bangkes Kecamatan Kadur Kabupaten Pamekasan: Studi Penerapa...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox Jurnal Ilmiah|italic title=Transformasi Pasangan Kawin Paksa Menuju Keluarga Sakinah di Desa Bangkes Kecamatan Kadur Kabupaten Pamekasan: Studi Penerapan Konsep Mubadalah|author=*Khoirinnisak (Program Studi Hukum Keluarga Islam Pascasarjana UIN Madura)
{{Infobox Jurnal Ilmiah|italic title=Hadis-Hadis Pendidikan Laki-Laki dan Perempuan|author=Hesti Humairoh (UIN Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi)|title_orig=Hadis-Hadis Pendidikan Laki-Laki dan Perempuan|name=|issn=3025-5694|note=[https://ejurnal.kampusakademik.co.id/index.php/jirs/article/view/5775/4999 (Download Original)]|pub_date=2025-07-07|series=Vol. 2 No. 2 (2025): September|image=Berkas:NO PHOTO.jpg|image_caption=|sumber=[https://ejurnal.kampusakademik.co.id/index.php/jirs/article/view/5775 JIRS; Jurnal Ilmiah Research Student]|doi=[https://doi.org/10.61722/jirs.v2i2.5775 doi.org/10.61722/jirs.v2i2.5775]}}'''Abstrak:''' Artikel ini membahas pemahaman hadis-hadis Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan pendidikan  laki-laki  dan  perempuan  dalam  perspektif  kesetaraan  gender.  Berangkat  dari  realitas ketimpangan akses pendidikan yang masih terjadi di masyarakat, tulisan ini menelaah bagaimana Islam melalui hadis-hadisnya memberikan dasar normatif terhadap prinsip keadilan dan hak pendidikan yang setara bagi semua gender. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan analisis hermeneutika, serta memanfaatkan pendekatan mubadalah dalam pembacaan hadis. Hasil kajian menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mendorong laki-laki, tetapi juga perempuan untuk menuntut ilmu, serta menghapus segala bentuk diskriminasi berbasis gender. Dengan memahami hadis secara kontekstual, pendidikan dapat menjadi instrumen transformasi sosial menuju masyarakat yang adil, beradab, dan setara.
*Habib (Program Studi Hukum Keluarga Islam Pascasarjana UIN Madura)|title_orig=Transformasi Pasangan Kawin Paksa Menuju Keluarga Sakinah di Desa Bangkes Kecamatan Kadur Kabupaten Pamekasan: Studi Penerapan Konsep Mubadalah|name=|issn=2714-6917|note=[https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/iqtishaduna/article/view/63138/23928 (Download Original)]|pub_date=2025-12-01|series=Vol. 7 No. 2 (2026): Januari|image=Berkas:NO PHOTO.jpg|image_caption=|sumber=[https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/iqtishaduna/article/view/63138 Iqtishaduna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah]|doi=[https://doi.org/10.24252/iqtishaduna.v7i2.63138 doi.org/10.24252/iqtishaduna.v7i2.63138]}}'''Abstrak:''' Kawin paksa merupakan fenomena yang masih kerap terjadi di kalangan masyarakat Indonesia termasuk di desa Bangkes kecamatanKadur kabupaten Pamekasan. Namun berbeda dengan pandangan tersebut,sebagian besar pasangan kawin paksa di desa tersebut justru berhasil membentuk keluarga yang harmonis serta berhasil mewujudkan nilai-nilai keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.Fenomena ini menarik untuk diteliti karena menunjukkan adanya proses transformasi relasi yang semula berlandaskan keterpaksaan menjadi hubungan yang dilandaskan kesalingan, cinta kasih dan kedamaian melalui penerapan konsep mubadalah.Permasalahan dalam penelitian ini adalah; bagaimana praktik kawin paksa di desa bangkes Kecamatankadur Kabupaten Pamekasan?, faktor-faktor apa saja yang mendorong terjadinya transformasi (relasi suami-istri) pada perkawinan paksa menuju keluarga sakinahdi desa bengkes Kecamatankadur Kabupaten Pamekasan?, bagaimana nilai-nilai konsep mubadalahditerapkan dalam proses transformasi pasangan kawin paksa menuju keluarga sakinahdi desa bangkes kecamatankadur kabupaten Pamekasan? Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis fenomenologi. Lokasi penelitian dipilih Desa Bangkes KecamatanKadur Kabupaten Pamekasan. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara semi terstruktur, observasi non partisipan serta metode dokumentasi. Adapun analisis data menggunakan teknik editing, organizing serta analizing. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa praktik kawin paksa di Desa Bangkes masih dilandasi oleh dominasi orang tua, terutama melalui peran sentral pangadhe’yang memegang kendali penuh atas proses perjodohan tanpa melibatkan persetujuan calon mempelai perempuan. Tradisi seperti ngin-angin, penggunaan jam pijampi, dan penentuan mahar yang memihak pihak laki-laki menunjukkan struktur relasi yang hierarkis dan mengabaikan hak individu anak perempuan. Meskipun demikian, beberapa pasangan yang menjalani kawin paksa mampu membentuk keluarga sakinahmelalui proses transformasi yang dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti dukungan keluarga dan sikap pasangan, serta faktor internal seperti kesadaran diri, pendekatan spiritual, kontrol emosi, adaptasi, dan komunikasi yang sehat. Proses transformasi ini berlangsung melalui lima tahapan psikologis: attraction, curiosity, crisis, deep attachment, dan commitment. Penerapan nilai-nilai konsep mubadalahdalam kehidupan pernikahan menjadi kunci terbentuknya relasi yang setara dan harmonis. Nilai-nilai seperti kesalingan, musyawarah, dan komitmen dalam ikatan pernikahan memperkuat kepercayaan dan tanggung jawab bersama, sekaligus menunjukkan bahwa pembentukan keluarga sakinahtidak ditentukan oleh awal mula pernikahan, melainkan oleh kemauan dan usaha kedua belah pihak dalam menjalani kehidupan rumah tangga secara adil dan bermitra.


'''''Kata Kunci:''' Kawin Paksa, Sakinah, Konsep Mubadalah.''
'''''Kata Kunci:''' Hadis, Pendidikan, Gende''
 
'''''Abstract:''' This article discusses the understanding of the hadiths of the Prophet Muhammad SAW relating to the education of men and women from a gender equality perspective. Starting from the reality of unequal access to education that still exists in society, this paper examines how Islam, through its hadiths, provides a normative basis for the principles of justice and equal educational rights for all genders. The research employs a qualitative approach using literature review and hermeneutic analysis methods, as well as the mubadalah approach in interpreting the hadiths. The findings reveal that Islam not only encourages men but  also  women  to  seek  knowledge  and  eliminates  all  forms  of  gender-based  discrimination.  By understanding  the  hadiths  in  their  contextual  framework,  education  can  serve  as  a  tool  for  social transformation toward a just, civilized, and equitable society.''
 
'''''Keywords:''' Hadith, Education, Gender''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal]]
[[Kategori:Artikel Jurnal]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah 2025]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah 2025]]

Revisi terkini sejak 23 April 2026 12.46

JudulHadis-Hadis Pendidikan Laki-Laki dan Perempuan
PenulisHesti Humairoh (UIN Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi)
SeriVol. 2 No. 2 (2025): September
Tahun terbit
2025-07-07
ISSN3025-5694
DOIdoi.org/10.61722/jirs.v2i2.5775
Sumber OriginalJIRS; Jurnal Ilmiah Research Student
(Download Original)

Abstrak: Artikel ini membahas pemahaman hadis-hadis Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan pendidikan laki-laki dan perempuan dalam perspektif kesetaraan gender. Berangkat dari realitas ketimpangan akses pendidikan yang masih terjadi di masyarakat, tulisan ini menelaah bagaimana Islam melalui hadis-hadisnya memberikan dasar normatif terhadap prinsip keadilan dan hak pendidikan yang setara bagi semua gender. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan analisis hermeneutika, serta memanfaatkan pendekatan mubadalah dalam pembacaan hadis. Hasil kajian menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mendorong laki-laki, tetapi juga perempuan untuk menuntut ilmu, serta menghapus segala bentuk diskriminasi berbasis gender. Dengan memahami hadis secara kontekstual, pendidikan dapat menjadi instrumen transformasi sosial menuju masyarakat yang adil, beradab, dan setara.

Kata Kunci: Hadis, Pendidikan, Gende

Abstract: This article discusses the understanding of the hadiths of the Prophet Muhammad SAW relating to the education of men and women from a gender equality perspective. Starting from the reality of unequal access to education that still exists in society, this paper examines how Islam, through its hadiths, provides a normative basis for the principles of justice and equal educational rights for all genders. The research employs a qualitative approach using literature review and hermeneutic analysis methods, as well as the mubadalah approach in interpreting the hadiths. The findings reveal that Islam not only encourages men but also women to seek knowledge and eliminates all forms of gender-based discrimination. By understanding the hadiths in their contextual framework, education can serve as a tool for social transformation toward a just, civilized, and equitable society.

Keywords: Hadith, Education, Gender