Lompat ke isi

2025 Tafsir dan Cyberfeminism di Media Sosial: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi '{{Infobox book|image=Berkas:Jurnal Tashdiq vol1 no1.jpg|italic title=Metode Qira’ah Mubadperan Wanita Dalam Kepemimpinan: Analisis Dan Penerapan|isbn=3030-8917|pub_date=2025-06-05|series=Vol. 14 No. 3 (2025)|author=*Syahri Al Hafidh (Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau) *Deffarul Syahroyza (Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau) *Anisa Cantika (Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau) *Laila Sari Masyhur (Universitas Islam Ne...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox book|image=Berkas:Jurnal Tashdiq vol1 no1.jpg|italic title=Metode Qira’ah Mubadperan Wanita Dalam Kepemimpinan: Analisis Dan Penerapan|isbn=3030-8917|pub_date=2025-06-05|series=Vol. 14 No. 3 (2025)|author=*Syahri Al Hafidh (Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau)
{{Infobox book|image=Berkas:Jurnal Darussalam.png|italic title=Tafsir dan Cyberfeminism di Media Sosial|isbn=2808-4462|pub_date=2025-12-26|series=Vol. 5 No. 2 (2025)|author=*Fuad Fansuri (UIN Sultan Aji Muhammad Idris, Samarinda, Indonesia)
*Deffarul Syahroyza (Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau)
*Muhammad Fakih (UIN Sultan Aji Muhammad Idris, Samarinda, Indonesia)
*Anisa Cantika (Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau)
*Afita Nur Hayati (UIN Sultan Aji Muhammad Idris, Samarinda, Indonesia)
*Laila Sari Masyhur (Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau)|title_orig=Metode Qira’ah Mubadperan Wanita Dalam Kepemimpinan: Analisis Dan Penerapan|name=|notes=[https://cibangsa.com/index.php/tashdiq/article/view/1249 Download PDF]|image_caption=[https://cibangsa.com/index.php/tashdiq/article/view/1249 Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah]}}
*Misbahul Ramadhani (UIN Sultan Aji Muhammad Idris, Samarinda, Indonesia)
*Rabi'atul Husni (UIN Sultan Aji Muhammad Idris, Samarinda, Indonesia)|title_orig=Tafsir dan Cyberfeminism di Media Sosial|name=|notes=[https://jurnal.stisdarussalam.ac.id/index.php/jd/article/view/349 Download PDF]|image_caption=[https://jurnal.stisdarussalam.ac.id/index.php/jd/article/view/349/232 Jurnal Darussalam: Pemikiran Hukum Ketatanegaraan dan Perbandingan Mazhab]}}
'''<u>Informasi Artikel Jurnal:</u>'''
'''<u>Informasi Artikel Jurnal:</u>'''
{|
{|
|Sumber
|Sumber
|:
|:
|[https://cibangsa.com/index.php/tashdiq/article/view/1249 Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah]
|[https://jurnal.stisdarussalam.ac.id/index.php/jd/article/view/349 Jurnal Darussalam: Pemikiran Hukum Ketatanegaraan dan Perbandingan Mazhab]
|-
|-
|Seri
|Seri
Baris 15: Baris 16:
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Syahri Al Hafidh, Deffarul Syahroyza, Anisa Cantika, Laila Sari Masyhur
|Fuad Fansuri, Muhammad Fakih, Afita Nur Hayati
|-
|
|
|Misbahul Ramadhani, Rabi'atul Husni
|-
|-
|DOI
|DOI
|:
|:
|[https://ejournal.warunayama.org/index.php/tashdiq/article/view/6652 doi.org/10.3783/tashdiqv2i9.2461]
|https://doi.org/10.59259/jd.v5i2.349
|-
|PDF
|:
|[https://jurnal.stisdarussalam.ac.id/index.php/jd/article/view/349 Download PDF]
|}
|}
'''Abstrak'''
'''Abstrak'''


Qira’ah Mubādalah is an interpretative method that  emerges  in response to religious interpretations that lean towards patriarchal and gender-biased perspectives. This research aims to reveal the necessity and significance of Qira’ah [[Mubadalah]] in comprehending verses of the Al-Qur'an that are frequently perceived  as  undermining  women, particularly through an analysis of QS. An-Nisa verse 34. The approach adopted in this study is qualitative-descriptive utilizing a literature review methodology. This researchemploys contextual interpretation theory within  a  framework    hermeneutika  kesalingan  (mubādalah) sebagaimana yang  diusung oleh [[Faqihuddin Abdul  Kodir]]Temuan penelitian menunjukkan bahwa Qira’ah Mubadalah menekankan saling keterkaitan  antara pria dan wanita  dalam hubungan sosial dan spiritual, serta menawarkan  pendekatan  interpretasi yang lebih setara terhadap teks-teks religius. Analisis terhadap QS. An-Nisa:34 melalui  sudut  pandang  ini  menghasilkan pemahaman yang tidak menempatkan pria  sebagai  pemimpin  absolut, melainkan sebagai mitra yang  setara dalam  keluarga.  Temuan ini  selaras dengan pemikiran kesetaraan gender dalam Islam dan menegaskan bahwa metode Qira’ah Mubādalah sangat relevan untuk konteks sosial keagamaan zaman modernPenelitian ini  menegaskan pentingnya penafsiran ulang terhadap teks religius secara adil, inklusif, dan kontekstual.
Artikel ini mencoba melihat bagaimana isu feminisme didistribusikan melalui praktik penafsiran di media sosialvirtualyang selama ini dimonopoli oleh kaum pria. Kaum pria dianggap sebagai pemeran utama dalam upaya menafsirkan ayat-ayat suci.Akibatnya, banyak ditemukan narasi agama yang bias gender yang  dikampanyekan di media sosialNarasi tersebut lebih didominasi oleh paradigma tekstual tanpa memperhatikan konteks ayat-ayat yang dijadikan rujukan, sehingga pesan utama dari ayat tersebut menjadi bias. Penelitian  ini   menggunakan  pendekatan  analisis  wacana  dengan  teknik dokumentasi dan studi kepustakaan (library research). Data primer yang dijadikan rujukan dalam  penelitian ini  adalah data-data postingan akun Mubadalah.id yang dikategorikan sebagai tafsir cyberfeminismdalam kurun waktu satu tahun terakhir sejak penelitian ini dimulai. Kategorisasi tafsir cyberfeminism pada  akun  Mubadalah.id  didasarkan  pada  penggunaan terjemahan  ayat-ayat  Al-Qu’ran maupun literatur-literatur  tafsir  dalam postingan-postingannya.Hasil  penelitian  ini   menunjukkan  bahwatafsir cyberfeminismpada akun Instagram Mubadalah.id menggambarkan konsep yang terkait hubungan antara teknologi dan pemberdayaan perempuanmelalui aktivitas penafsiran di media sosial.Karakteristik tafsir cyberfeminismyang diterapkan oleh Mubadalah.id di akun Instagram mereka didasarkan pada tiga prinsip dasar: pertama, penafsiran Al-Qur'an harus memberikan manfaat bagi semua  pihak;  kedua,  penafsiran Al-Qur'an   tidak   boleh   memperkuat objektifikasi terhadap gender tertentu; dan ketigapenafsiran Al-Qur'an mendorong pembagian peranyang adil antara gender.
 
'''''Kata Kunci:'''Qira’ah Mubādalah; tafsir gender; An-Nisa:34; Faqihuddin Abdul Kodir; hermeneutics; intertextuality''
 
''Qira’ah  Mubādalah  is  an interpretative  approach  that  arose  in response  to  male-dominated  and  gender-biased  interpretations  of religion.  This  research  seeks  to  highlight  the  significance  and necessity  of  Qira’ah  Mubādalah  in  the  interpretation  of  Qur'anic verses often regarded as unfair towards women, particularly through the examination of QS. An-Nisa verse 34. The methodology utilized is qualitative-descriptive with a focus on literature review. This study applies   contextual   interpretation   theory  framed  within hermeneutical reciprocity (mubādalah) as developed by Faqihuddin Abdul Kodir. The results show that  Qira’ah  Mubādalah  promotes mutual  respect  between  men  and  women  within  both  social  and spiritual  contextsproviding  a  more  equitable  method  for interpreting  religious  texts.  Analyzing  QS.  An-Nisa:34  from  this perspective does not depict men as sole authorities but rather as equal stakeholders in a family setting. These results resonate with the principles of gender equality in Islam and validate the importance of Qira’ah Mubādalah in contemporary socio-religious scenarios. This study underscores the importance of a just, inclusive, and context-aware reinterpretation of sacred texts.''


'''''Keywords:''' Qira’ah  Mubādalah;  gender  understanding; An-Nisa:34; Faqihuddin Abdul Kodir; interpretation theory; reciprocity''
'''''Kata Kunci:'''Tafsir, Cyberfeminism, Feminisme''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal]]
[[Kategori:Artikel Jurnal]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah 2025]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah 2025]]

Revisi terkini sejak 9 April 2026 10.10

JudulTafsir dan Cyberfeminism di Media Sosial
Penulis
  • Fuad Fansuri (UIN Sultan Aji Muhammad Idris, Samarinda, Indonesia)
  • Muhammad Fakih (UIN Sultan Aji Muhammad Idris, Samarinda, Indonesia)
  • Afita Nur Hayati (UIN Sultan Aji Muhammad Idris, Samarinda, Indonesia)
  • Misbahul Ramadhani (UIN Sultan Aji Muhammad Idris, Samarinda, Indonesia)
  • Rabi'atul Husni (UIN Sultan Aji Muhammad Idris, Samarinda, Indonesia)
SeriVol. 5 No. 2 (2025)
Tahun terbit
2025-12-26
ISBN2808-4462
Download PDF

Informasi Artikel Jurnal:

Sumber : Jurnal Darussalam: Pemikiran Hukum Ketatanegaraan dan Perbandingan Mazhab
Seri : Vol. 14 No. 3 (2025)
Penulis : Fuad Fansuri, Muhammad Fakih, Afita Nur Hayati
Misbahul Ramadhani, Rabi'atul Husni
DOI : https://doi.org/10.59259/jd.v5i2.349
PDF : Download PDF

Abstrak

Artikel ini mencoba melihat bagaimana isu feminisme didistribusikan melalui praktik penafsiran di media sosialvirtualyang selama ini dimonopoli oleh kaum pria. Kaum pria dianggap sebagai pemeran utama dalam upaya menafsirkan ayat-ayat suci.Akibatnya, banyak ditemukan narasi agama yang bias gender yang dikampanyekan di media sosial. Narasi tersebut lebih didominasi oleh paradigma tekstual tanpa memperhatikan konteks ayat-ayat yang dijadikan rujukan, sehingga pesan utama dari ayat tersebut menjadi bias. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis wacana dengan teknik dokumentasi dan studi kepustakaan (library research). Data primer yang dijadikan rujukan dalam penelitian ini adalah data-data postingan akun Mubadalah.id yang dikategorikan sebagai tafsir cyberfeminismdalam kurun waktu satu tahun terakhir sejak penelitian ini dimulai. Kategorisasi tafsir cyberfeminism pada akun Mubadalah.id didasarkan pada penggunaan terjemahan ayat-ayat Al-Qu’ran maupun literatur-literatur tafsir dalam postingan-postingannya.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwatafsir cyberfeminismpada akun Instagram Mubadalah.id menggambarkan konsep yang terkait hubungan antara teknologi dan pemberdayaan perempuanmelalui aktivitas penafsiran di media sosial.Karakteristik tafsir cyberfeminismyang diterapkan oleh Mubadalah.id di akun Instagram mereka didasarkan pada tiga prinsip dasar: pertama, penafsiran Al-Qur'an harus memberikan manfaat bagi semua pihak; kedua, penafsiran Al-Qur'an tidak boleh memperkuat objektifikasi terhadap gender tertentu; dan ketiga, penafsiran Al-Qur'an mendorong pembagian peranyang adil antara gender.

Kata Kunci:Tafsir, Cyberfeminism, Feminisme