Lompat ke isi

Kota Banjarmasin: Sebuah Profil Kota Ramah Disabilitas: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi '{{Infobox book|image=Berkas:Penafsiran ayat Difabel.png|italic title=Penafsiran Ayat Defabel Dalam Al-Quran: Perspektif Mufassir Nusantara|pub_date=Oktober 2022|author=*Moh. Masrur, M.Ag. (Ketua) *Dr. Tafsir, M.Ag. (Anggota)|title_orig=Penafsiran Ayat Defabel Dalam Al-Quran: Perspektif Mufassir Nusantara|name=|notes=[https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/19633/1/Masur-2022-Penafsiran-Ayat-Difabel-Al-Quran.pdf Download PDF]|image_caption=[https://eprints.walis...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox book|image=Berkas:Penafsiran ayat Difabel.png|italic title=Penafsiran Ayat Defabel Dalam Al-Quran: Perspektif Mufassir Nusantara|pub_date=Oktober 2022|author=*Moh. Masrur, M.Ag. (Ketua)
{{Infobox book|image=Berkas:Banjarmasin ramah disabilitas.png|italic title=Kota Banjarmasin: Sebuah Profil Kota Ramah Disabilitas|pub_date=2019|author=*Nina Asterina
*Dr. Tafsir, M.Ag. (Anggota)|title_orig=Penafsiran Ayat Defabel Dalam Al-Quran: Perspektif Mufassir Nusantara|name=|notes=[https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/19633/1/Masur-2022-Penafsiran-Ayat-Difabel-Al-Quran.pdf Download PDF]|image_caption=[https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/19633/ Walisongo Institutional Repository]}}
*Barry Beagen
*Hasanatun Nisa Thamrin|title_orig=Kota Banjarmasin: Sebuah Profil Kota Ramah Disabilitas|name=|notes=[https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000371045_ind Download PDF]|image_caption=}}
'''<u>Informasi Skripsi:</u>'''
'''<u>Informasi Skripsi:</u>'''
{|
{|
|Sumber
|Sumber
|:
|:
|[https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/19633/ Walisongo Institutional Repository]
|[https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000371045_ind UNESCO]
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Moh. Masrur, M.Ag., Dr. Tafsir, M.Ag.
|Nina Asterina, Barry Beagen, Hasanatun Nisa Thamrin
|-
|-
|Fakultas
|Tahun
|:
|:
|Ushuluddin dan Humaniora
|2019
|}
|}
'''Abstrak'''
Segala puji dan syukur kepada Tuhan atas selesainya Profil Banjarmasin Ramah Disabilitas ini. Kota kami menyambut gembira peluncuran Profil ini karena Profil ini menampilkan gerakan Banjarmasin menuju sebuah kota inklusif. Banjarmasin sebelumnya telah menerbitkan sebuah Peta Jalan Kota Inklusif dan sekarang profil ini menjadi tambahan referensi baru untuk kita di saat kita membangun kota yang lebih inklusif. Kami berharap agar profil ini akan bermanfaat bagi semua orang. Kota Banjarmasin, yang kini berusia 493 tahun (24 September 1526 – 24 September 2019) telah berkomitmen untuk menjadikan kota ini inklusif bagi semua orang sejak tahun 2013. Namun, tujuan ini tidak dapat dicapai sendiri oleh Pemerintah Kota Banjarmasin; oleh karena itu, kami sangat mendukung semangat kerjasama dan inovasi dari semua pemangku kepentingan untuk mendorong semua warga agar secara konsisten menerapkan nilai-nilai inklusif dalam kehidupan sehari-hari mereka.


Kaum difabel/penyandang cacat masih sering kali dipandang sebelah mata oleh masyarakat luas, tidak sedikit para penyan- dang difabel yang menerima perlakuan tidak menyenangkan, stigma negatif serta stereotip dari orang-orang sekitar. Berbagai bentuk diskriminasi pun kerap kali dialamatkan kepada mereka, mulai dari bulliying, dikucilkan, rendahnya pendidikan serta minimnya lapangan pekerjaan. Meskipun pada tatanan global, sudah mulai muncul kepedulian ter- hadap kelompok ini. Hal ini ditandai dengan ditetapkannya tanggal 3 Desember sebagai Hari Penyandang Cacat Sedunia, akan tetapi nampak belum tersosialisasi dengan baik se- hingga belum diketahui orang luas. Lebih prihatin lagi, tern- yata praktik-praktik tidak menyenangkan terhadap penyan- dang difabel juga dapat dijumpai di lingkungan akademik yang seharusnya menjadi ‘lingkungan garis depan’ yang mengkampanyekan ramah difabel.
Kota Banjarmasin, yang kini berusia 493 tahun (24 September 1526 – 24 September 2019) telah berkomitmen untuk menjadikan kota ini inklusif bagi semua orang sejak tahun 2013. Namun, tujuan ini tidak dapat dicapai sendiri oleh Pemerintah Kota Banjarmasin; oleh karena itu, kami sangat mendukung semangat kerjasama dan inovasi dari semua pemangku kepentingan untuk mendorong semua warga agar secara konsisten menerapkan nilai-nilai inklusif dalam kehidupan sehari-hari mereka.


Penelitian ini ingin menelusuri bagaimana pandangan al-Qur’an tentang kaum difabel yang ada di tengah-tengah masyarakat kita serta bagaimana padangan mufassir nusan- tara dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an yang membahas tentang esksitensi kaum defabel tersebut. Metode dan pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan sosio-his- toris. Beberapa kitab tafsir karya ulama nusantara menjadi sumber data utama dalam penelitian ini, disamping sumber- sumber sekunder lainnya. Karena jenis penelitian ini adalah library research maka teknik pengumpulan data yang dipilih adalah studi dokumen, sementara teknik analisis data yang digunakan adalah analisis hermenutik dan analisis biografis.
Saya ingin mengapresiasi Yayasan Kota Kita dan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) atas upaya mereka yang selama setahun terakhir memfasilitasi dan menulis serta menerbitkan Profil Kota Ramah Disabilitas. Saya berharap Profil ini dapat menjadi referensi bagi Pemerintah, Sektor Swasta, Organisasi Masyarakat Sipil (CSO) dan organisasi penyandang disabilitas (DPO) untuk menentukan arah dan strategi yang dapat mempercepat perwujudan sebuah kota inklusif.  


Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa semua ayat- ayat al-Qur’an yang berbicara mengenai kaum defabel/pen- yandang cacat, justru merujuk pada makna perlindungan dan pengayoman. Surat ‘Abasa [80]: 1-2 misalnya, secara umum berisi teguran langsung dari Allah SWT atas sikap Nabi Mu- hammad SAW. yang tidak mau ramah terhadap seorang pen- yandang cacat yang datang padanya, yaitu yang bernama Ab- dullah ibn Ummi Maktum. Mufassir awal al-Qur’an di Nusantara, sepertinya Syekh Abdurrouf al-Sinkili (1615-1693 M.) dan Syaikh Nawawi al- Bantani (1813-1879 M.) belum banyak memberikan elabo- rasi yang memadahi terhadap eksistensi kaum defabel/pen- yandang cacat ini, demikian pula tokoh-tokoh mufassir Nusantara lainnya seperti Prof. Dr. HAMKA (1908-1981 M.), KH. Bisri Musthofa (1915-1977 M.), juga Prof. Quraish Shihab, mereka lebih fokus menjelaskan latar belakang turunya QS. Abasa (80) dan makna ayat tersebut secata tekstual, sementara pembahasaan secara kontekstual atas tafsir ayat-ayat de- fabel belum dijamah sama sekali oleh mareka. Ini berbeda dengan tema-tema yang beririsan langsung dengan persoalan sosial politik, semisal persoalan dasar negara Pancasila atau program KB, para mufassir kita sepertinya tampak lebih re- sponsive, ini seperti ditunjukkan oleh Bakri Syahid (1918-1994 M.) dan KH. Misbah Zaenul Musthofa (1916-1994 M.).
Bersama-sama mari kita wujudkan impian kita untuk sebuah kota yang inklusif dan dapat diakses untuk semua. Jangan pernah bosan dan terus berpartisipasi dalam membangun Banjarmasin BAIMAN (Barasih wan Nyaman) –sebuah Banjarmasin yang segar dan nyaman.  


'''''Kata Kunci:''' Difabel; Tafsir Al-Quran; Mufassir Nusantara''
''Wassalamualaikum wabarhmatullah wabarakatuh.''
 
'''H. Ibnu Sina''' | Walikota Banjarmasin
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Referensi Kajian Kupibilitas]]
[[Kategori:Referensi Kajian Kupibilitas]]
[[Kategori:Skripsi, Thesis dan Penelitian Kupibilitas]]
[[Kategori:Skripsi, Thesis dan Penelitian Kupibilitas]]
[[Kategori:Penelitian Kupibilitas]]
[[Kategori:Penelitian Kupibilitas]]

Revisi terkini sejak 10 April 2026 17.53

JudulKota Banjarmasin: Sebuah Profil Kota Ramah Disabilitas
Penulis
  • Nina Asterina
  • Barry Beagen
  • Hasanatun Nisa Thamrin
Tahun terbit
2019
Download PDF

Informasi Skripsi:

Sumber : UNESCO
Penulis : Nina Asterina, Barry Beagen, Hasanatun Nisa Thamrin
Tahun : 2019

Segala puji dan syukur kepada Tuhan atas selesainya Profil Banjarmasin Ramah Disabilitas ini. Kota kami menyambut gembira peluncuran Profil ini karena Profil ini menampilkan gerakan Banjarmasin menuju sebuah kota inklusif. Banjarmasin sebelumnya telah menerbitkan sebuah Peta Jalan Kota Inklusif dan sekarang profil ini menjadi tambahan referensi baru untuk kita di saat kita membangun kota yang lebih inklusif. Kami berharap agar profil ini akan bermanfaat bagi semua orang. Kota Banjarmasin, yang kini berusia 493 tahun (24 September 1526 – 24 September 2019) telah berkomitmen untuk menjadikan kota ini inklusif bagi semua orang sejak tahun 2013. Namun, tujuan ini tidak dapat dicapai sendiri oleh Pemerintah Kota Banjarmasin; oleh karena itu, kami sangat mendukung semangat kerjasama dan inovasi dari semua pemangku kepentingan untuk mendorong semua warga agar secara konsisten menerapkan nilai-nilai inklusif dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Kota Banjarmasin, yang kini berusia 493 tahun (24 September 1526 – 24 September 2019) telah berkomitmen untuk menjadikan kota ini inklusif bagi semua orang sejak tahun 2013. Namun, tujuan ini tidak dapat dicapai sendiri oleh Pemerintah Kota Banjarmasin; oleh karena itu, kami sangat mendukung semangat kerjasama dan inovasi dari semua pemangku kepentingan untuk mendorong semua warga agar secara konsisten menerapkan nilai-nilai inklusif dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Saya ingin mengapresiasi Yayasan Kota Kita dan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) atas upaya mereka yang selama setahun terakhir memfasilitasi dan menulis serta menerbitkan Profil Kota Ramah Disabilitas. Saya berharap Profil ini dapat menjadi referensi bagi Pemerintah, Sektor Swasta, Organisasi Masyarakat Sipil (CSO) dan organisasi penyandang disabilitas (DPO) untuk menentukan arah dan strategi yang dapat mempercepat perwujudan sebuah kota inklusif.

Bersama-sama mari kita wujudkan impian kita untuk sebuah kota yang inklusif dan dapat diakses untuk semua. Jangan pernah bosan dan terus berpartisipasi dalam membangun Banjarmasin BAIMAN (Barasih wan Nyaman) –sebuah Banjarmasin yang segar dan nyaman.

Wassalamualaikum wabarhmatullah wabarakatuh.

H. Ibnu Sina | Walikota Banjarmasin