Lompat ke isi

Difabel dan Penyandang Disabilitas: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi ''''<u>Informasi Artikel:</u>''' {| |Sumber Original |: |[https://sapdajogja.org/2025/03/perempuan-disabilitas-bergerak-20-perempuan-penyandang-disabilitas-dari-seluruh-indonesia-ikuti-sekolah-perempuan-disabilitas-tahap-pertama-yang-diselenggarakan-oleh-sapda-dengan-dukungan-women/ SAPDA] |- |Tanggal Terbit |: |2025 |- |Penulis |: |Media SAPDA |} {| |Artikel Lengkap: [https://sapdajogja.org/2025/03/perempuan-disabilitas-bergerak-20-perempuan-penyandang-disabilita...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[https://sapdajogja.org/2025/03/perempuan-disabilitas-bergerak-20-perempuan-penyandang-disabilitas-dari-seluruh-indonesia-ikuti-sekolah-perempuan-disabilitas-tahap-pertama-yang-diselenggarakan-oleh-sapda-dengan-dukungan-women/ SAPDA]
|PLD UIN Sunan Kalijaga
|-
|-
|Tanggal Terbit
|Tanggal Terbit
|:
|:
|2025
| -
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Media SAPDA
|Arif Maftuhin
|}
|}
{|
{|
|Artikel Lengkap: [https://sapdajogja.org/2025/03/perempuan-disabilitas-bergerak-20-perempuan-penyandang-disabilitas-dari-seluruh-indonesia-ikuti-sekolah-perempuan-disabilitas-tahap-pertama-yang-diselenggarakan-oleh-sapda-dengan-dukungan-women/ Perempuan Disabilitas Bergerak: 20 Perempuan Penyandang Disabilitas dari Seluruh Indonesia Ikuti Sekolah Perempuan Disabilitas Tahap Pertama yang Diselenggarakan oleh SAPDA dengan dukungan Women’s Fund Asia (WFA)]
|Artikel Lengkap: [http://pld.uin-suka.ac.id/2014/09/difabel-dan-penyandang-disabilitas.html Difabel dan Penyandang Disabilitas]
|}
|}
Bagi perempuan disabilitas, kesetaraan adalah perjuangan panjang yang saat ini belum sepenuhnya tercapai. Perempuan disabilitas tidak hanya menghadapi berbagai masalah ketimpangan dalam kondisi masyarakat patriarki, tetapi juga harus berjuang agar suara mereka didengar dalam gerakan perempuan secara umum. Dalam hal ini, stigma masih kuat melekat terhadap perempuan penyandang disabilitas, di mana masyarakat dengan pandangan ableism kerap memandang mereka sebagai sosok lemah, tergantung, dan tidak memiliki peran yang berarti dalam masyarakat.
Saya wajib menulis artikel ini sebelum semua menjadi salah kaprah. Sebab, penyebaran kesalahannya sudah mulai terjadi dari ruang-ruang pertemuan ke media massa. Kalau mereka yang di luar gerakan tidak tahu penggunaan tepatnya, bisa dimaklumi. Tetapi, mereka yang aktif di gerakan difabel pun sudah turut, larut.


Kondisi ini juga diperparah dengan adanya hambatan struktural dan kultural, hambatan tersebut menghalangi perempuan disabilitas dalam menikmati hak-hak dasarnya. Perempuan disabilitas mengalami kesulitan dalam mendapatkan pendidikan yang layak, layanan kesehatan yang memadai, aksesibilitas dan akomodasi yang sesuai, kesempatan kerja dengan upah yang setara, serta hak-hak sebagai perempuan dan warga negara menjadi tantangan utama yang dihadapi. Kerentanan ini pun semakin kompleks ketika dipengaruhi oleh ragam disabilitas yang dimiliki, tempat tinggal, serta bagaimana keluarga dan masyarakat mempersepsikan mereka.
'''Difabel'''
 
Istilah "difabel" adalah kata eufimis yang dipilih oleh sekelompok teman-teman aktifis. Kelompok yang paling banyak menggunakan adalah LSM-LSM di wilayah DIY dan Jateng, tanpa mengecualikan mereka yang juga menggunakan istilah ini di berbagai penjuru Indonesia lainnya.
 
Istilah "difabel" berasal dari Bahasa Inggris "''differently abled''"atau disingkat ''diffabled'' (lihat sini). Istilah yang di Amerika Utara muncul pada tahun 1990-an ini lalu diadposi oleh para aktifis di Indonesia menjadi "difabel".
 
Kata difabel adalah kata benda (''noun'') mengacu kepada "manusia"nya, yaitu orang yang menyandang perbedaan level fungsi jasmani dan rohani (dulu: penyandang cacat). Karena itu, kita bisa menggunakan istilah "kaum difabel" sebagaimana kita menggunakan istilah "kaum pendatang", yang berarti "sekelompok orang difabel."
[[Kategori:Informasi dan Opini Kupibilitas]]
[[Kategori:Informasi dan Opini Kupibilitas]]
[[Kategori:Info Kupibilitas]]
[[Kategori:Info Kupibilitas]]

Revisi terkini sejak 11 April 2026 01.42

Informasi Artikel:

Sumber Original : PLD UIN Sunan Kalijaga
Tanggal Terbit : -
Penulis : Arif Maftuhin
Artikel Lengkap: Difabel dan Penyandang Disabilitas

Saya wajib menulis artikel ini sebelum semua menjadi salah kaprah. Sebab, penyebaran kesalahannya sudah mulai terjadi dari ruang-ruang pertemuan ke media massa. Kalau mereka yang di luar gerakan tidak tahu penggunaan tepatnya, bisa dimaklumi. Tetapi, mereka yang aktif di gerakan difabel pun sudah turut, larut.

Difabel

Istilah "difabel" adalah kata eufimis yang dipilih oleh sekelompok teman-teman aktifis. Kelompok yang paling banyak menggunakan adalah LSM-LSM di wilayah DIY dan Jateng, tanpa mengecualikan mereka yang juga menggunakan istilah ini di berbagai penjuru Indonesia lainnya.

Istilah "difabel" berasal dari Bahasa Inggris "differently abled"atau disingkat diffabled (lihat sini). Istilah yang di Amerika Utara muncul pada tahun 1990-an ini lalu diadposi oleh para aktifis di Indonesia menjadi "difabel".

Kata difabel adalah kata benda (noun) mengacu kepada "manusia"nya, yaitu orang yang menyandang perbedaan level fungsi jasmani dan rohani (dulu: penyandang cacat). Karena itu, kita bisa menggunakan istilah "kaum difabel" sebagaimana kita menggunakan istilah "kaum pendatang", yang berarti "sekelompok orang difabel."