Sejarah KUPI: Perbedaan antara revisi
Tidak ada ringkasan suntingan Tag: Dikembalikan VisualEditor |
Tidak ada ringkasan suntingan Tag: Pengembalian manual VisualEditor |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Rubrik [[Sejarah KUPI]]''' memuat kisah-kisah anekdotal tentang organisasi, lembaga, program, dan berbagai kegiatan yang turut membuka jalan bagi lahirnya Kongres Ulama Perempuan Indonesia, sejak dekade 1980-an hingga penyelenggaraan KUPI pertama pada 2017. Rubrik ini dapat diisi oleh para saksi sejarah, baik ditulis langsung oleh yang bersangkutan, disusun melalui wawancara, maupun dirangkai berdasarkan rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan, seperti buku, arsip, dan artikel ilmiah. | '''Rubrik [[Sejarah KUPI]]''' memuat kisah-kisah anekdotal tentang organisasi, lembaga, program, dan berbagai kegiatan yang turut membuka jalan bagi lahirnya Kongres Ulama Perempuan Indonesia, sejak dekade 1980-an hingga penyelenggaraan KUPI pertama pada 2017. Rubrik ini dapat diisi oleh para saksi sejarah, baik ditulis langsung oleh yang bersangkutan, disusun melalui wawancara, maupun dirangkai berdasarkan rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan, seperti buku, arsip, dan artikel ilmiah. | ||
== Sekilas tentang KUPI == | == Sekilas tentang KUPI == | ||
Revisi terkini sejak 4 April 2026 11.25
Rubrik Sejarah KUPI memuat kisah-kisah anekdotal tentang organisasi, lembaga, program, dan berbagai kegiatan yang turut membuka jalan bagi lahirnya Kongres Ulama Perempuan Indonesia, sejak dekade 1980-an hingga penyelenggaraan KUPI pertama pada 2017. Rubrik ini dapat diisi oleh para saksi sejarah, baik ditulis langsung oleh yang bersangkutan, disusun melalui wawancara, maupun dirangkai berdasarkan rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan, seperti buku, arsip, dan artikel ilmiah.
Sekilas tentang KUPI
Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) adalah gerakan untuk mewujudkan visi keadilan relasi laki-laki dan perempuan dalam perspektif Islam dan kerja-kerja masyarakat muslim Indonesia. Sebagai gerakan, kerja-kerja ini memiliki akar sejarah yang cukup panjang. Dalam konteks sejarah kontemporer Indonesia, kerja-kerja gerakan ini telah diawali oleh sayap perempuan dari dua organisasi besar, yaitu Fatayat dan Mulismat NU, serta Aisyiah dan Nasyiatul Aisyiah Muhammadiyah.
Secara lebih kongkrit, kerja-kerja ini dapat dirunut mulai dari diskursus pada awal 90an melalui Jurnal Ulumul Qur’an, kiprah berbagai Pusat Studi Wanita (P3M) perguran tinggi Islam se-Indonesia, terutama IAIN Yogyakarta, kerja-kerja Perhimpunan Pemberdayaan Pesantren dan Masyarakat (P3M) dan Yayasan Kesejahteraan Fatayat (YKF) Yogyakarta, serta lembaga-lembaga yang lain di berbagai daerah di Indonesia.
Sejak tahun 1992, misalnya, YKF Yogyakarta secara khusus melakukan berbagai pelatihan untuk mahasiswa, santri, kyai dan nyai, terutama yang muda-muda, mengadakan berbagai forum diskusi, dan menerbitkan tabloid serta buku-buku mengenai hak-hak perempuan. Begitupun P3M, dengan jaringanya yang lebih luas di seluruh Indonesia, membuka program khusus “Fiqhun Nisa” pada tahun 1995, sebagai pendidikan dan pemberdayaan hak-hak perempuan dalam perspektif Islam, terutama untuk kalangan pesantren. P3M juga menyelenggarakan berbagai pelatihan, halaqah, dan menerbitkan tabloid serta buku yang relevan, terutama mengenai kesehatan reproduksi perempuan.
Mulai tahun 2000, upaya ini kemudian dilanjutkan secara reguler oleh Perhimpunan Rahima dengan menyelenggarakan Madrasah Rahima. Pada tahun 2005, Madrasah ini berubah menjadi Pendidikan Ulama Perempuan (PUP). Sampai tahun 2022, Rahima telah menyelenggarakan PUP sebanyak 5 angkatan dari berbagai daerah di Indonesia, dengan jumlah kadernya lebih dari 271 orang, baik yang senior maupun ulama muda.
Dengan inisiatif serupa, Yayasan Fahmina juga menyelenggarakan Dawrah Fiqh Perempuan (mulai tahun 2003), Dawrah Kader Ulama Pesantren (mulai tahun 2005), dan terakhir Dawrah Kader Ulama Perempuan (mulai tahun 2018). Ada ratusan alumni Dawrah Fahmina ini dari berbagai daerah Indonesia, khusus DKUP yang terakhir, yang dimulai tahun 2018, sudah meloloskan 121 kader ulama perempuan, yang senior para pengasuh utama, maupun kalangan muda pesantren.
Alimat, sebuah perhimpunan para individu dan lembaga yang meyakini keadilan relasi laki-laki dan perempuan dalam Islam, juga memiliki inisiatif serupa sejak tahun 2009, walau dengan intensitas yang lebih kecil dibanding Rahima dan Fahmina. Berbagai lembaga dari berbagai daerah, mulai dari Aceh, Padang, Lampung, Banjarmasin, Jakarta, Banten, Cirebon, Pekalongan, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Jombang, Makassar, dan Mataram Nusa Tenggara Barat, juga melakukan berbagai inisiatif serupa, dengan kekhasannya masing-masing, yang kemudian bermuara pada perhelatan Kongres Ulama Perempuan Indonesia yang pertama kali diadakan di Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy Cirebon pada tahun 2017.
Dekade 1980
Dekade 1990
Dekade 2000
Dekade 2010
Kongres Pertama di Cirebon tahun 2017
Kongres Kedua di Jepara tahun 2022
Kongres kedua KUPI diadakan pada bulan Nopember 2022 dan dipilih bertempat di Pesantren Hasyim Asy'ari Bangsri Jepara. Pesantren ini dipilih karena dikembangkan dan diasuh secara bersama oleh suami istri, KH. Nuruddin Amin dan Ny. Hj. Hindun Anisah. Keduanya adalah ulama aktivis, yang sudah cukup lama menggeluti kerja-kerja gerakan sosial, terutama dalam mewujudkan keadilan relasi laki-laki dan perempuan. Sementara Konferensi Internasional diadakan di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Kegiatan Kongres kedua ini diselenggarakan oleh lima lembaga: Rahima, Fahmina, Alimat, Aman Indonesia, dan Jaringan Gusdurian.
Deskripsi kegiatan-kegiatan Kongres kedua ini bisa dilihat di entri Proses Kongres 2, sementara hasil-hasilnya bisa dikunjungi di entri Hasil Kongres 2. Ada juga entri-entri lain yang bisa dikunjungi untuk mengenali Kegiatan Kongres KUPI pertama ini secara lebih mendalam. Yaitu, Dokumen Kongres 2 berisi dokumen-dokumen pendukung, Refleksi Kongres 2 berisi tuilsan-tulisan lepas paska kegiatan Kongres, Diskursus Kongres 2 berisi opini akademik, Berita Kongres 2 berisi berita-berita dari berbagai media tentang perhelatan Kongres, dan Galeri Kongres 2 berisi foto-foto kegiatan.