Lompat ke isi

Sekolah Keberagaman bagi Disabilitas: Perbedaan antara revisi

←Membuat halaman berisi ''''<u>Informasi Artikel:</u>''' {| |Sumber Original |: |[https://fahmina.id/ulama-perempuan-dorong-fiqih-disabilitas-dan-akses-ibadah-inklusif/ Yayasan Fahmina] |- |Tanggal Terbit |: |17 Desember 2025 |- |Penulis |: |Dara Assyifa |- |Artikel Lengkap |: |[https://fahmina.id/ulama-perempuan-dorong-fiqih-disabilitas-dan-akses-ibadah-inklusif/ Ulama Perempuan Dorong Fiqh Disabilitas dan Akses Ibadah Inklusif] |} '''Yogyakarta''' — Lokakarya Jaringan Ulama Perempuan...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[https://fahmina.id/ulama-perempuan-dorong-fiqih-disabilitas-dan-akses-ibadah-inklusif/ Yayasan Fahmina]
|[https://fahmina.id/sekolah-keberagaman-bagi-disabilitas/ Yayasan Fahmina]
|-
|-
|Tanggal Terbit
|Tanggal Terbit
|:
|:
|17 Desember 2025
|3 Maret 2025
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Dara Assyifa
|Rosidin
|-
|-
|Artikel Lengkap
|Artikel Lengkap
|:
|:
|[https://fahmina.id/ulama-perempuan-dorong-fiqih-disabilitas-dan-akses-ibadah-inklusif/ Ulama Perempuan Dorong Fiqh Disabilitas dan Akses Ibadah Inklusif]
|[https://fahmina.id/sekolah-keberagaman-bagi-disabilitas/ Sekolah Keberagaman bagi Disabilitas]
|}
|}
'''Yogyakarta''' — Lokakarya Jaringan Ulama Perempuan Indonesia yang digelar di Kampus UNU Yogyakarta menjadi ruang perjumpaan lintas pengalaman: penyandang disabilitas, ulama perempuan, akademisi, aktivis, pesantren, hingga pemerintah daerah. Di forum Konsolidasi Ulama Perempuan yang diinisiasi yayasan Fahmina can Center fo GEDSI UNU Ypkyakarta ini, menunjukkan bahwa isu disabilitas tidak dibicarakan sebagai wacana abstrak, melainkan sebagai pengalaman hidup yang nyata sering kali pahit, penuh stigma, dan minim dukungan. (11/12/2025)
ada 27-28 Februari 2025 di Gereja Kristen Jawa Gondokusumo dan Shantikara Yogyakarta,  Srikandi Lintas Iman (SRILI), dalam implementasi Partisipatory Grand Making  (PGM) yang host atau fasilitator Fahmina, melakukan penguatan dengan nama sekolah Keberagaman bagi disabilitas di Yogyakarta. Dalam proses penyiapan yang hanya satu bulan Srili mampu melaksanakan kegiatan tersebut.


Fasilitator lokakarya, Marzuki Wahid, membuka diskusi dengan menekankan pentingnya saling mengenal. “Ternyata di ruangan ini ada akademisi, pesantren, aktivis, pemerintah, dan organisasi penyandang disabilitas. Banyak kerja yang sudah dilakukan, tapi belum saling terhubung,” ujarnya. Kesadaran inilah yang menjadi titik awal kolaborasi.
Dari sisi substansi penyusunan kurikulum masih perlu didiskusikan lebih mendalam, dari sisi tehnis melibatkan panitia, fasilitator yang kira-kira memenuhi target yang diharapkan menjadi ruang diskusi yang menarik bagi pelaksana, kedepan masih memerlukan pengetahuan orang-orang yang memahami isu ini. Begitu juga dengan rekruitmen peserta yang rentang usianya muda, perempuan dan penyandang disabilitas, karena menjadi tantangan tersendiri.


'''Alat Bantu adalah Tubuh Itu Sendiri'''
Bekerja di isu kebebasan beragama yang melibatkan disabilitas yang anak muda dan perempuan menjadi ruang adrenalin tersendiri. Bagaimana tidak kebebasan beragama dianggap isu berat. Isu kebebasan beragama dianggap berat karena beberapa alasan, pertama agama seringkali terkait erat dengan identitas dan nilai-nilai seseorang. Ketika kebebasan beragama terancam, maka identitas dan nilai-nilai tersebut juga terancam.


Pengalaman personal disampaikan Nuning (Kohana), pengguna kursi roda. Ia menceritakan bagaimana bantuan kursi roda dari pemerintah sering kali tidak sesuai kebutuhan. “Baru beberapa hari lalu ada bantuan kursi roda, tapi ukurannya terlalu besar. Alat bantu ini adalah diri saya sendiri,” katanya. Penyesuaian alat bantu bukan perkara sepele, tetapi soal martabat dan kemandirian.
Kedua, kebebasan beragama adalah salah satu hak asasi manusia yang fundamental. Pelanggaran terhadap hak ini dapat memicu konflik dan ketidakstabilan sosial. Ketiga, mengancam keharmonisan sosial. Kebebasan beragama yang terancam dapat memicu ketegangan dan konflik antar kelompok agama, yang dapat mengganggu keharmonisan sosial.
[[Kategori:Informasi dan Opini Kupibilitas]]
[[Kategori:Informasi dan Opini Kupibilitas]]
[[Kategori:Berita Kupibilitas]]
[[Kategori:Berita Kupibilitas]]