Lompat ke isi

2025 Kebijakan Pendidikan Islam Berbasis Gender: Studi Literatur: Perbedaan antara revisi

Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox book|image=Berkas:Jurnal Tashdiq vol1 no1.jpg|italic title=Metode Qira’ah Mubadperan Wanita Dalam Kepemimpinan: Analisis Dan Penerapan|isbn=3030-8917|pub_date=2025-06-05|series=Vol. 14 No. 3 (2025)|author=*Syahri Al Hafidh (Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau)
{{Infobox book|image=Berkas:Mepokoaso.png|italic title=025 Kebijakan Pendidikan Islam Berbasis Gender: Studi Literatur|isbn=-|pub_date=2025-12-31|series=Vol. 1 No. 2 (2025)|author=*Nurul Ala (Institut Syekh Abdul Halim Hasan Binjai)
*Deffarul Syahroyza (Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau)
*Juliani Juliani (Institut Syekh Abdul Halim Hasan Binjai)
*Anisa Cantika (Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau)
*Mei Cindy Armaini (Institut Syekh Abdul Halim Hasan Binjai)
*Laila Sari Masyhur (Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau)|title_orig=Metode Qira’ah Mubadperan Wanita Dalam Kepemimpinan: Analisis Dan Penerapan|name=|notes=[https://cibangsa.com/index.php/tashdiq/article/view/1249 Download PDF]|image_caption=[https://cibangsa.com/index.php/tashdiq/article/view/1249 Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah]}}
*Luthfi Az-Zahra (Institut Syekh Abdul Halim Hasan Binjai)
*Septia Putri Delima (Institut Syekh Abdul Halim Hasan Binjai)|title_orig=025 Kebijakan Pendidikan Islam Berbasis Gender: Studi Literatur|name=|notes=[https://ejournal.iainkendari.ac.id/index.php/mepokoaso/article/view/13856 Download PDF]|image_caption=[https://ejournal.iainkendari.ac.id/index.php/mepokoaso/article/view/13856/3886 Mepokoaso: Jurnal Hukum Keluarga Islam ]}}
'''<u>Informasi Artikel Jurnal:</u>'''
'''<u>Informasi Artikel Jurnal:</u>'''
{|
{|
|Sumber
|Sumber
|:
|:
|Mepokoaso: Jurnal Hukum Keluarga Islam
|[https://ejournal.iainkendari.ac.id/index.php/mepokoaso/article/view/13856 Mepokoaso: Jurnal Hukum Keluarga Islam]
|-
|-
|Seri
|Seri
Baris 15: Baris 16:
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Nurul Ala'''Institut Syekh Abdul Halim Hasan BinjaiInstitut Syekh AbInstitut Syekh Abdul Halim Hasan Binjai'''
|Nurul Ala, Juliani Juliani, Mei Cindy Armaini
 
|-
Juliani Juliani'''InInstitut Syekh Abdul Halim Hasan Binjai'''
|
 
|
Mei Cindy Armai'''Institut Syekh Abdul Halim Hasan Binjaiai'''
|Luthfi Az-Zahra, Septia Putri Delima
 
Luthfi Az-Zahra'''InInstitut Syekh Abdul Halim Hasan Binjai'''
 
Septia Putri Delima'''Institut Syekh Abdul Halim Hasan Binjai'''
|-
|-
|DOI
|DOI
|:
|:
|[https://ejournal.warunayama.org/index.php/tashdiq/article/view/6652 doi.org/10.3783/tashdiqv2i9.2461]
| -
|-
|PDF
|:
|[https://ejournal.iainkendari.ac.id/index.php/mepokoaso/article/view/13856 Download PDF]
|}
|}
'''Abstrak'''
'''Abstrak'''


Qira’ah Mubādalah  is an interpretative method that emerges in response to religious interpretations that lean towards patriarchal and gender-biased perspectives. This research aims to reveal the necessity and significance of Qira’ah [[Mubadalah]] in comprehending verses of the Al-Qur'an that are frequently  perceived  as  undermining  women, particularly through an analysis of QS. An-Nisa verse 34. The approach adopted in this study is qualitative-descriptive utilizing a literature review methodology. This researchemploys contextual interpretation theory  within  a  framework    hermeneutika  kesalingan  (mubādalah) sebagaimana yang diusung  oleh  [[Faqihuddin  Abdul  Kodir]].  Temuan penelitian menunjukkan bahwa Qira’ah Mubadalah menekankan saling keterkaitan  antara pria  dan  wanita  dalam  hubungan  sosial  dan spiritual,  serta  menawarkan  pendekatan  interpretasi  yang lebih setara terhadap teks-teks religius. Analisis terhadap QS. An-Nisa:34 melalui sudut pandang ini  menghasilkan pemahaman yang tidak menempatkan pria sebagai  pemimpin  absolut, melainkan  sebagai mitra  yang setara  dalam  keluarga.  Temuan  ini  selaras  dengan pemikiran kesetaraan gender  dalam  Islam  dan  menegaskan  bahwa metode  Qira’ah  Mubādalah  sangat  relevan untuk  konteks sosial keagamaan zaman modern.  Penelitian  ini  menegaskan  pentingnya penafsiran ulang terhadap  teks  religius  secara  adil,  inklusif,  dan kontekstual.
Penelitian ini mengkaji isu krusial mengenai bias gender  dalam kebijakan pendidikan Islam yang sering kali terjebak di antara idealitas teologis yang egaliter dan realitas sosiologis yang patriarkisTujuan penelitian ini  adalah untuk mengevaluasi integrasi nilai-nilai keadilan gender  dalam  regulasi  institusional,  konten  kurikulum,   dan  struktur  kepemimpinan  di lembaga pendidikan Islam. Metode yang digunakan adalah penelitian pustaka kualitatif dengan teknik analisis isi untuk  menyintesis data dari publikasiilmiah, dokumen kebijakan,  dan laporan  lapangan  yang  diterbitkan  antara  tahun  2020  hingga  2025.   Hasil  penelitian mengungkapkan adanya disparitas signifikan dalam representasi gender; analisis konten buku teks menunjukkan dominasi narasi androsentris sebesar 72%, sementara data lapangan mengindikasikan adanya fenomena "glass ceiling" di mana hanya 18% posisi kepemimpinan strategis yang diisi oleh perempuan. Selain itu, ditemukan bahwa 75% lembaga yang dianalisis belum memiliki prosedur operasional standar formal terkait perlindungan kekerasan berbasis genderDampak  dari  temuan  ini  menunjukkan  bahwa   kebijakan   yang   "buta   gender" menghambat potensi akademik dan psikologis siswa perempuan. Sebagai simpulan, penelitian ini menegaskan bahwa transformasi pendidikan Islam memerlukan strategi Pengarusutamaan Gender  (PUGyang  komprehensifHal ini melibatkan reorientasi teologis menuju perspektif "Mubadalah" (kesalingan) dan implementasi penganggaran yang responsif gender. Pergeseran struktural dan paradigma tersebutsangat penting untuk memastikan pendidikan Islam berfungsi sebagai instrumen inklusif dan membebaskan yang menumbuhkan keadilan sosial bagi laki-laki maupun perempuan di era modern.
 
'''''Kata Kunci:'''Qira’ah Mubādalah; tafsir gender; An-Nisa:34; Faqihuddin Abdul Kodir; hermeneutics; intertextuality''
 
''Qira’ah Mubādalah is an interpretative approach that arose in response to male-dominated and gender-biased interpretations of religion. This research seeks to  highlight  the  significance  and necessity  of  Qira’ah  Mubādalah  in  the  interpretation  of  Qur'anic verses often regarded as unfair towards women, particularly through the examination of QS. An-Nisa verse 34. The methodology utilized is qualitative-descriptive with a focus on literature review. This study applies   contextual   interpretation   theory   framed   within hermeneutical reciprocity (mubādalah) as developed by Faqihuddin Abdul KodirThe results show that Qira’ah Mubādalah promotes mutual respect between men and women within both social and spiritual contexts, providing a more equitable method for interpreting religious  texts.  Analyzing  QS.  An-Nisa:34  from  this perspective does not depict men as sole authorities but rather as equal stakeholders in a family setting. These results resonate with the principles of gender equality in Islam and validate the importance of Qira’ah Mubādalah in contemporary socio-religious scenarios. This study underscores the importance of a just, inclusive, and context-aware reinterpretation of sacred texts.''


'''''Keywords:''' Qira’ah Mubādalah; gender understanding; An-Nisa:34; Faqihuddin Abdul Kodir; interpretation theory; reciprocity''
'''''Kata  Kunci:''' Kebijakan Pendidikan, Kesetaraan Gender,  Pendidikan  Islam,  Pengarusutamaan Gender, Studi Literatur.''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal]]
[[Kategori:Artikel Jurnal]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah 2025]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah 2025]]